Kamis, 31 Mei 2012 1 komentar

Hasil Survey Mengenai Anak Berbakat (Gifted)




  •   Pada hari sabtu tanggal 26 mei 2012 pukul 20.00 wib, saya membuat kuisioner online yang bertema kan Anak Berbakat (Gifted). Disini saya melakukan kusioner online untuk kepentingan  Mata Kuliah Psikologi Pendidikan, dimana saya menggunakan survey online berupa kuisioner yang terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan dan dapat diakses oleh koresponden yang merupakan mahasiswa/i Fakultas Psikologi USU angkatan 2011melalui situs yang bernama Surveysurvey.com untuk menjangkau seberapa besar pengetahuan mereka terhadap  anak berbakat.

Survey ini sendiri diikuti oleh 56 mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Dimana komponenya pertanyaan dan pernyataan terdiri dari:
·         Identitas Responden
Yaitu: Nama,Usia,Jenis Kelamin,Pendidikan,NIM.
·         10 Peryataan tentang Anak Berbakat (Gifted)

1.      Anak berbakat tidak sama dengan anak tidak berbakat.

 Setuju 
 46 

 73.02% 
 Tidak Setuju 
 13 

 20.63% 
 Sangat Setuju 
 4 

 6.35% 

2.      Anak berbakat membutuhkan motivasi dari lingkungan sekitarnya.

 Setuju 
 52 

 81.25% 
 Tidak Setuju 
 5 

 7.81% 
 Sangat Setuju 
 7 

 10.94% 

3.      Anak berbakat kebutuhan sosial dan emosionalnya tidak dengan serta merta diperolehnya.

 Setuju 
 44 

 69.84% 
 Tidak Setuju 
 15 

 23.81% 
 Sangat Setuju 
 4 

 6.35% 

4.      Anak berbakat terlihat lebih aktif, sibuk dan terlibat berbagai hal dilingkungannya.

 Setuju 
 43 

 68.25% 
 Tidak Setuju 
 18 

 28.57% 
 Sangat Setuju 
 2 

 3.17% 

5.      Anak berbakat sama perkembangannya dengan anak tidak berbakat.

 Setuju 
 18 

 28.57% 
 Tidak Setuju 
 45 

 71.43% 
 Sangat Setuju 
 0 
 0.00% 

6.      Anak berbakat memiliki daya ingat yang luar biasa sehingga mampu menceritakan hal pada masa lalu secara rinci.

 Setuju 
 36 

 59.02% 
 Tidak Setuju 
 24 

 39.34% 
 Sangat Setuju 
 1 

 1.64% 

7.      Anak berbakat tidak pernah bertanya pada orang disekitarnya.

 Setuju 
 6 

 10.00% 
 Tidak Setuju 
 54 

 90.00% 
 Sangat Setuju 
 0 
 0.00% 

8.      Anak berbakat mempunyai perkembangan motorik lebih cepat.

 Setuju 
 39 

 63.93% 
 Tidak Setuju 
 22 

 36.07% 
 Sangat Setuju 
 0 
 0.00% 

9.      Anak berbakat memilih berteman dengan orang yang lebih tua atau dewasa.

 Setuju 
 16 

 26.67% 
 Tidak Setuju 
 44 

 73.33% 
 Sangat Setuju 
 0 
 0.00% 






10.  Anak berbakat mampu memahami banyak kata dibandingkan dengan teman sebayanya.

 Setuju 
 42 

 70.00% 
 Tidak Setuju 
 18 

 30.00% 
 Sangat Setuju 
 0 
 0.00% 



Survei saya akhiri pada tanggal 29 Mei 2012.


                  
 


Melalui tabel di atas tersebut, sebagian besar koresponden melihat bahwa seorang anak di kategorikan anak berbakat, tak semata-mata karena mudah memahami segala sesuatu, mempunyai daya ingat baik serta mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan cepat. Bisa jadi mereka bukan siswa yang selalu berprestasi. Namun, ada sesuatu yang membedakan dirinya dengan siswa lain di kelas, yakni kewaspadaan (alertness), kemampuan memahami (quick insights), dan keterampilan lain yang lebih hebat dari anak lain seusianya. Hal ini membuat anak mampu menunjukkan prestasi luar biasa di sekolah. Satu ciri pasti yang ditunjukkan anak berbakat umumnya adalah skor IQ-nya tinggi.


Testimoni :
Menurut saya sendiri, mengenai situs kuisioner online tersebut bahwa banyak manfaat yang saya ambil yaitu keringkasan dalam hal waktu, biaya yang terjangkau, proses respondensi yang tepat meskipun kuisioner online ini tidak bisa didokumentasikan seperti kuisioner non online.
Akan tetapi dari mata kuliah pendidikan sendiri yang saya jalani selama ini saya merasakan bahwa saya telah banyak memanfaatkan jaringan online tersebut secara positif seperti pembuatan blog, google talk  dan kuisioner online.


Salam hormat,

Rika Damayanti
111301018

Selasa, 29 Mei 2012 0 komentar

Pedagogi

Pedagogis adalah penerapan dari pedagogi yang merupakan ilmu tentang seni mengajar. Pada abad ke-21, seorang pengajar bukan hanya perlu memiliki kemampuan berupa ilmu pengetahuan tetapi juga kemampuan untuk mengajar. Siswa di abad ke-21 berbeda dengan siswa abad 20'an. 

Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang vital dalam usahanya untuk mempertahankan hidup dan mengembangkan dirinya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dirasakannya belajar sebagai suatu kebutuhan yang vital karena semakin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menimbulkan berbagai perubahan yang melanda segenap aspek kehidupan dan penghidupan manusia. Tanpa belajar, manusia akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan tuntutan hidup, kehidupan dan penghidupan yang senantiasa berubah. Dengan demikian belajar merupakan suatu kebutuhan yang dirasakan sebagai suatu keharusan untuk dipenuhi sepanjang usia manusia, sejak lahir hingga akhir hayatnya. (Syamsu Mappa, 1994: 1)
Banyak teori mengenai proses pembelajaran didasarkan pada rumusan pendidikan sebagai suatu proses transmisi budaya. Dari teori itu lahirlah istilah pedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni mengajar anak-anak. Perkembangan selanjutnya, istilah pedagogi tersebut berubah artinya menjadi ilmu dan seni mengajar.

Cara mengajar guru pun berbeda - beda, ada yang mengajar dengan lemah lembut, keras, humoris, dan sebagainya. Dari pengakuan para orang tua dahulu, guru yang mengajar mereka masih menggunakan sistem yang keras, bila tidak bisa membaca, berhitung, tidak mengerjakan tugas, membuat onar dan sejenisnya, mereka akan mendapat hukuman beragam. Disuruh berdiri didepan kelas, berdiri di lapangan dengan terik matahari, dipukul ujung jarinya, dan lain - lain. Hukuman semata untuk membuat para siswa jera atas kelakuan mereka yang melanggar peraturan. 

Namun, kini para siswa sudah mulai bisa mengerti hak asasi manusia dan mulai menyalahgunakannya. Bila ada guru yang menghukum mereka, maka akan melaporkanya kepada orang tua mereka dengan pengaduan tindak kekerasan. Maka dari itu guru harus mengubah cara mengajar mereka menjadi lebih lembut namun tetap tegas tetapi, tidak banyak dari mereka yang akhirnya jenuh dengan tindakan para siswa yang sering kelewat batas. 



1. Work ethic, merupakan sebuah sistem prinsip prinsip dalam kinerja berupa aturan-aturan perilaku. Work ethic di dunia kerja berupa kecakapan dalam menunaikan tugas dan ketaatan pada aturan-aturan yang telah ditetapkan serta kecakapan menjaga etika dalam hubungan antar personal. Bagi guru, aturan tersebut sudah tertuang jelas pada Undang-Undang Guru dan Dosen beserta perangkat lainnya seperti Permendiknas yang bisa di unduh secara bebas via internet.

2. Collaboration, adalah kecakapan membangun jaringan kerjasama dengan orang lain. Karena, di masa kini sehebat apapun seseorang tentu tidak aka nada artinya apa-apa bila tidak memiliki jaringan.

3. Good communication, adalah kecakapan berkomunikasi secara efektif dan efisien dengan orang lain baik secara individu atau kelompok.

4. Social responsibility, adalah kecakapan untuk ikut memiliki rasa tanggung jawab sosial.

5. Critical thinking and problem solving, adalah kecakapan berfikir kritis dan kecakapan memecahkan permasalahan. 

Referensi  :
Danim. 2010. Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta 
Santrock, John W. (2004). Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Jakarta : Kencana Media Group.
 
;