Jumat, 08 Juni 2012 0 komentar

Kesimpulan Andragogi

Wah hari ini sangat-sangat seruu, penuh canda tawa, ketika di akhir mata kuliah psikologi pendidikan kami melakukan simulasi sesama kelompoknya masing-masing. Oke sebelum masuk tentang simulasi hari ini?

saya akan membahas sedikit tentang penegrtian andragogi yang saya dapatkan hari ini dari dosen pengampuh saya yaitu ibu Filia Dina Anggaraeni. Andragogi itu sendiri secara etimologis, berasal dari bahasa lati yanga "andros" yanga rtinya dewasa, dan "gogos " artinya memimpin atau melayani. 

Knowles (Sudjana, 2005: 62) mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar (the science and arts of helping adults learn). Berbeda dengan pedagogi karena istilah ini dapat diartikan sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak (pedagogy is the science and arts of teaching children).

Orang dewasa tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, tetapi juga dilihat dari segi sosial dan psikologis. Secara biologis, seseorang disebut dewasa apabila ia telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut dewasa apabila ia telah melakukan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila telah memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.

  •    Karakteristik POD

1.      Orang dewasa telah sudah telah memiliki lebih banyak pengalaman.
2.      Orang dewasa telah memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar.
3.      Orang dewasa memiliki banyak peranan dan tanggung jawab.
4.      Orang dewasa lebih beragam daripada pemuda.
5.      Makna belajar bagi orang dewasa.

  •    Tujuan POD
1.      Memusatkan pada tujuan.
2.      Memenuhi kebutuhan dan minat.
3.      Menyerupai sekolah.
4.      Menguatkan kepemimpinan.
5.      Mengembangkan lembaga POD.
6.      Meningkatkan informalitas.
7.      Membantu pelajar mencapai suatu tingkat kebahagiaan dan makna dalam kehidupan.
8.   Membantu pelajar memahami diri sendiri, bakat dan keterbatasannya serta hubungan dengan orang lain.
9.      Membantu orang dewasa memahami dan mengenali kebutuhan belajar seumur hidup.
10.  Memberi kondisi dan kesempatan.
11.  Memberikan jika dibutuhkan.
12.  Membantu orang-orang dewasa merubah kondisi sosial mereka.
13.  Membantu orang-orang dewasa menjadi bebas, individu-individu otonom.

 Nah orang dewasa itu sendiri lebih banyak melakukan pendekatan-pendekatan, seperti sharing dalam memecahkan masalah dalam kehidupanya.
Misalnya saja: mario teguh ni, dia itu melakukan sharing terhadap orang-orang yang membutuhkannya.

Nah jadi intinya disini, perbedaan antara pedagogi dan andragogi yang kami pelajari hari ini adalah:
1.  Orang dewasa membutuhkan kebebasan yang lebih bersifat pengarahan diri.
2.   Perbedaan pengalaman, orang dewasa mengumpulkan pengalaman.
3.   Kesiapan untuk belajar, orang dewasa ingin mempelajari bidang permasalahan yang kini mereka hadapi dan anggap relevan.
4. Pedagogi lebih banyak merupakan upaya menstransmisikan sejumlah pengalaman dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang.

                                                                                         
 
Sekian post saya hari ini  tentang pedagogi yang saya dapatkan hari ini.
Sekian dan terima kasih.

Salam hormat,

Rika Damayanti.
0 komentar

Korupsi itu Memalukan, Menyontek itu Lumrah


Korupsi itu Memalukan, Menyontek itu Lumrah

Ilustrasi (pdk)
Semarang, Psikologi Zone – Banyaknya kasus korupsi membuat semua masyarakat dan generasi muda geram dibuatnya. Bagaimana tidak, korupsi dinilai telah merugikan rakyat dan negara. Sulitnya memberantas korupsi tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan sehari-hari. Sampai sejauh mana korupsi ini telah mendarah daging? fokus bukan pada generasi tua tapi justru generasi muda Bangsa Indonesia.
 
Menurut Falasifatul Falah, dosen Psikologi Sosial Unissula Semarang mengatakan, ada ketidakkonsistenan nilai pribadi pada generasi muda dalam menanggapi perilaku ketidakjujuran dan pelanggaran amanah.
“Saya melontarkan pertanyaan secara anonim dan tertulis pada sekitar 60 mahasiswa yang menghadiri sebuah forum akademik, untuk mengetahui bagaimana sikap mereka terhadap korupsi dan perilaku lain,” kata Falasifatul Falah, Sabtu (24/3).

Hasilnya, mayoritas mahasiswa menilai bahwa korupsi merupakan perilaku yang memalukan, namun tindakan menyuap polisi lalu lintas dan saling menyontek di saat ujian adalah perbuatan lumrah.
“Walaupun secara metodologis belum bisa digeneralisasi. Sikap mahasiswa itu merupakan potret dari ketidakkonsistenan nilai pribadi mereka. Kontradiktif karena perilaku korupsi, menyuap polisi lalu lintas, dan menyontek sama-sama merupakan manifestasi dari ketidakjujuran dan pelanggaran amanah,” jelasnya.

Falasifatul Falah menduga banyak aktivis mahasiswa yang suka berdemo tidak sepenuhnya mengharamkan perilaku menyontek saat ujian dalam kehidupan akademik.
Tidak ada yang bisa menjamin mereka saat ada kesempatan melakukan korupsi. Mengingat banyak contoh tokoh muda terkenal berani dengan idealisme, namun loyo di dalam birokrasi.

Sebuah penelitian di negara berkembang menghasilkan bahwa individu yang menganggap dirinya sebagai religius dan menilai korupsi adalah dosa, tidak bisa mengelak dari perilaku dosa tersebut. Individu ini melakukan konformitas, mengalah pada pengaruh sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
“Kebiasaan berjamaah harus dibuang jauh-jauh bila itu menyangkut hal negatif seperti korupsi atau menyontek jawaban ujian,” tutur Falasifatul Falah.
Pendidikan karakter merupakan salah satu solusi yang bisa meredam budaya korupsi sejak masa anak-anak hingga dewasa kelak. Individu yang mampu membongkar budaya korupsi adalah memulai dari diri sendiri. (sm/mba).


Daftar Pustaka:
http://www.psikologizone.com/korupsi-itu-memalukan-menyontek-itu-lumrah/065115836
Rabu, 06 Juni 2012 0 komentar

Gaya Belajar

Setiap orang ditakdirkan berbeda, tak terkecuali dalam bagaimana seseorang belajar. Setiap individu memiliki gaya belajar yang berlainan. Bagi seorang guru, sangat penting mengetahui gaya belajar siswanya sehingga cara mengajarnya dapat mencapai hasil yang lebih maksimal dengan menyesuaikan gaya belajar siswa-nya.
Seringkali guru salah menilai jika ada siswa yang tidak bisa duduk diam dan tenang. Seringkali malah siswa tersebut dianggap nakal. Bisa saja siswa bertingkah seperti itu karena guru memberikan cara pengajaran yang tidak sesuai dengan gaya belajar siswa tersebut sehingga dia susah memahami pelajaran dan menjadi bosan.
Menurut penelitian, ada banyak kategori gaya belajar siswa. Namun, gaya belajar yang banyak dibicarakan dan akan sedikit dibahas disini ada tiga yaitu; visual/spatial, auditori/aural dan kinestetik/physical.

1. Gaya Visual/Spatial

Pembelajar gaya visual, lebih suka menggunakan foto, membuat gambar, bermain warna, dan peta untuk menyampaikan informasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Dia suka membaca, suka menulis, suka mencoret-coret kertas, lebih menyukai membaca cerita dibandingkan mendengar cerita, cepat dalam melakukan penjumlahan atau perkalian, pintar dalam mengeja kata, dan sering mencatat segala yang diperintahkan.
Pembelajar tipe ini dapat dengan mudah memvisualisasikan benda, rencana dan hasil pikiran mata. Juga memiliki kemampuan yang baik tentang tata ruang sehingga mudah memahami peta.
Untuk mengajar pembelajar visual, gunakan foto, gambar, warna dan media visual lainnya untuk membantu belajar. Pakai alat tulis (spidol, kapur dll) minimal empat warna.
Banyak menggunakan “kata visual” dalam ungkapan. Contohnya: lihat, gambar, perspektif, visual, dan peta.
Gunakan peta pikiran (mind map) untuk memberikan penjelasan atau membuat catatan. Gunakan diagram sistem membantu memvisualisasikan hubungan antara bagian-bagian dari sistem.
Pakailah teknik bercerita  tertentu dapat membantu pembelajar tipe ini untuk menghafal materi yang tidak mudah untuk “dilihat”.
Beberapa profesi yang sebagian besar menggunakan gaya visual adalah seni visual, arsitektur, fotografi, video atau film, desain, perencanaan (khususnya yang strategis), dan navigasi.

2. Gaya Auditori/Aural
Pembelajar tipe ini suka belajar atau bekerja dengan suara dan musik. Memiliki sensitifitas dalam nada dan ritme. Biasanya bisa bernyanyi, memainkan alat musik, atau mengenali suara dari berbagai instrumen. Musik tertentu memiliki pengaruh kuat ke emosinya.
Untuk pembelajar dengan gaya belajar auditori gunakan banyak suara, irama dan musik. Bacakan materi menggunakan suara yang keras, membuat sesi tanya jawab, berdiskusi, sambil mendengarkan musik ataupun bekerja secara kelompok
Gunakan mnemonic (jembatan keledai) dengan ritme menarik atau jingle lagu untuk menghafalkan sesuatu.
Perlu pemanfaatan konten yang menggunakan suara dalam asosiasi dan visualisasi. Misalnya suara binatang ketika  belajar mengenai biologi, suara mesin ketika belajar kecepatan di fisika dll.

3. Gaya Kinestetik/Physical
Gaya Belajar ini lebih banyak belajar melalui melakukan sesuatu secara langsung (bergerak, bekerja dan menyentuh)
Siswa yang memiliki gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan melakukan suatu aksi yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingat atau memahami sesuatu.
Pembelajar kinestetik tak tahan duduk berlama-lama mendengarkan pelajaran dan merasa bisa belajar lebih baik jika prosesnya disertai kegiatan fisik. Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, siswa yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta.
Pembelajar karakteristik ini dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, seperti bekerja di lab atau belajar di alam atau sambil bermain. Perlu juga secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.
Usahakan membuat sesi pembelajaran yang melibatkan kegiatan fisik seperti drama, membaca puisi, atau permainan sederhana.






 
;