Sabtu, 02 Juni 2012 0 komentar

Saat Frustasi Orang Juga Tersenyum



Saat Frustasi Orang Juga Tersenyum


Amerika Serikat, Psikologi Zone – Sebuah penelitian baru menemukan bahwa saat orang frustasi, mereka biasa tersenyum. Apakah Anda termasuk salah satu dari mereka? Ihsan Hoque, seorang peneliti dari Massachussets Institute of Technology, merancang sebuah program komputer yang dapat mengungkapkan perbedaan antara senyum kesenangan atau senyum dari bentuk frustasi. 

Program tersebut dapat mengidentifikasi emosi penggunanya dan akan memberikan respon. Hasil penemuan ini diharapkan mampu membantu banyak tenaga profesional dalam memahami ekspresi orang autistik.
Penelitian ini diujicobakan oleh peneliti MIT Media Lab, para peserta diminta untuk mengeluarkan ekspresi kegembiraan atau frustasi, webcam kemudian akan merekam ekspresi mereka.
Pertama, para peserta diminta untuk mengikuti tes online yang dirancang untuk membuat mereka mengalami frustasi dan menonton video lucu untuk menciptakan respon kegembiraan.

Saat peserta diharuskan untuk pura-pura mengalami frustasi, 9 dari 10 peserta tidak tersenyum. Hal yang berbeda saat mereka benar-benar mengalami frustasi, sebanyak 90 persen dari mereka justru tersenyum.
“Penelitian ini mungkin menjadi awal pengetahuan untuk mengetahui hubungan senyuman dalam ekspresi emosi negatif. Ini menunjukkan pada kita bahwa tidak semua senyum bersifat positif,” papar Psikolog Prof Jeffrey Cohn, dari University of Pittsburgh, salah satu peneliti dalam studi tersebut, dikutip The Telegraph (28/5). (tgj/mba)

 Referensi
http://www.psikologizone.com/saat-frustasi-orang-juga-tersenyum/065116799
0 komentar

Kata-kata Mutiara

Seks edukasi diperlukan supaya usia biologis remaja sesuai dengan perkembangan psikoseksualnya. (Zoya Amirin, M.Psi)


Ketika ada kekeliruan terhadap anak, maka semua pihak harus berani menginteropeksi diri masing-masing. (Kak Seto)





0 komentar

Self-Regulated Learning Strategies & Motivation Strategies for Learning Questionnaire




Self-Regulated Learning Strategies (SRLS)

Strategi belajar (learning strategies) didasarkan pada strategi SRL Zimmerman's (1986) yang meliputi dua aspek, yakni aspek cognitive dan metacognitive pada proses belajar. Zimmerman (1989) mengidentifikasi 14 strategi SRL yang diperoleh dari teori kognitif sosial. Tujuan setiap strategi untuk meningkatkan regulasi diri pada siswa, yakni : a) berfungsi pada diri siswa (personal functioning), b) kinerja perilaku akademik siswa (academic behavioral performance), dan c) lingkungan pembelajaran di kelas (learning environment).
Sebagai contoh, strategi organizing and transforming, rehearsing and memorizing, goal setting and planning difokuskan pada mengoptimalkan regulasi pribadi siswa (personal regulation). Strategi self-evaluation dan self-consequences dirancang untuk meningkatkan fungsi perilaku siswa (behavioral functioning), dan strategi environmental structuring, seeking information, reviewing, dan seeking assistance dimaksudkan untuk mengoptimalkan lingkungan pembelajaran siswa di kelas (learning environment).
 
14 strategi meregulasi diri dalam belajar disingkat SRLS adalah :
  1. Self-evaluation (beberapa statemen yang menandakan adanya inisiatif siswa untuk mengevaluasi mutu atau kemajuan tentang apa yang dikerjakan mereka).
     
  2. Organizing and transforming (beberapa statemen yang menandakan adanya inisiatif siswa untuk mengorganisasi kembali materi pelajaran agar lebih mudah dan jelas memahaminya untuk meningkatkan belajar mereka).
     
  3. Goal-setting and planning (beberapa statemen yang menandakan bahwa siswa telah menentukan sasaran, sasaran antara, perencanaan yang bertahap, pemilihan waktu, menyusun semua kegiatan yang berhubungan dengan sasaran pendidikan mereka).
     
  4. Seeking information (beberapa statemen yang menandakan adanya usaha awal siswa untuk berusaha sungguh-sungguh mendapatkan semua informasi yang berkaitan dengan tugas mereka).
     
  5. Keeping records and monitoring (beberapa statemen yang menandakan adanya usaha awal siswa untuk mengingat beberapa peristiwa atau hasil dari pekerjaan mereka).
     
  6. Environmental structuring (beberapa statemen yang menandakan adanya usaha awal siswa untuk memilih atau menyusun tempat yang membuat belajar lebih mudah).
     
  7. Self-consequences (beberapa statemen yang menandakan siswa dapat mengatur diri atau berimajinasi akan mendapat penghargaan jika sukses dan hukuman jika gagal).
     
  8. Rehearsing and memorizing (beberapa statemen yang menandakan adanya usaha awal siswa untuk menghafal materi pelajaran agar lebih mudah memahami dan jelas).
     
  9. Seeking social assistance (beberapa statemen yang menandakan adanya usaha awal siswa untuk meminta bantuan kepada teman-teman,
     
  10. para guru,
     
  11. dan orang yang lebih tua.
     
  12. – 14 Reviewing records (beberapa statemen yang menandakan adanya usaha awal siswa untuk membaca kembali soal-soal ujian, catatan, atau buku teks dalam menghadapi ulangan atau ujian kenaikan kelas).
Motivation Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ)

MSLQ adalah instrumen dengan menggunakan skala Likert yang dirancang untuk menilai motivasi (motivation beliefs) dan penggunaan strategi belajar (learning strategies use) yang digunakan oleh siswa.
 
Skala motivasi beliefs meliputi tiga area :
  1. Value (goal orientasi intrinsik dan ekstrinsik, task value / nilai suatu tugas),
  2. Expectancy / pengharapan (control beliefs about learning / keyakinan dalam mengendalikan belajar , self-efficacy), dan
  3. Affect / pengaruh (test anxiety / uji ketertarikan).
Skala strategi belajar meliputi 9 subskala hasil ekstrak dari 14 strategi SRLS di atas, yakni :
  1. Strategi kognitif (cognitive strategies) : rehearsal (latihan), elaboration (pengembangan), organization (mengorganisasi), critical thinking (berpikir kritis),
  2. Strategi metakognitif (metacognitive strategies) : planning, monitoring, and regulating,
  3. Resource management / memanage sumber daya : managing time (memanage waktu) and study environment (lingkungan studi), effort management (memanage usaha), help-seeking (mencari bantuan).
Kombinasi antara subskala strategi metacognitive dan subskala effort management akan menghasilkan skala self-regulation (Pintrich & De Groot, 1990).
Selanjutnya Self regulated learning (SRL) merupakan konstruk (construct) dari penggunaan strategi kognitif (cognitive strategy use) dan skala self-regulation.
Kata kunci : SRL, SRLS, MSLQ
 
Referensi
 
0 komentar

Dokumen Proyek Mini


  












Ini lah hasil proyek mini kami yang kami laksanakan kurang lebih sebulan yang lalu di SMA N 11 MEDAN, wah ternyata enak sekali y? melakukan kegiatan seperti ini, hemmm jadi banyak pengalaman ni berkat mengikuti mata kuliah psikologi pendidikan yang dicanangkan 
oleh ibu Filia Dina Anggaraeni



Jumat, 01 Juni 2012 0 komentar

Asumsi Paedagogi dan Andragogi


Ada asumsi yang mendasar mengenai asumsi yang digunakan oleh paedagogi dan andragogi. Asumsi tersebut antara lain :

1. Konsep diri

Konsep diri atau kepribadian, pada paedagogi dikatakan bahwa anak sangat tergantung kepada pihak lain, hampir seluruh kehidupannya diatur oleh orang dewasa, baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat lain. Oleh karena itu pada paedagogi, peserta didik dianggap masih belum mampu untuk mengatur dirinya sendiri. Anak didik dianggap sebagai botol kosong yang siap diisi air. Dan ada juga yang berpendapat bahwa pendidikan terhadap anak ini diibaratkan seperti memahat sebuah patung. Baik botol maupun patung adalah suatu gambaran dari anak didik yang siap menerima apa adanya dari sang pendidik, tanpa harus memberikan komentar, atau mengembangkan sendiri.
Pada andragogi, peserta didik dianggap sudah dewasa, sehinga konsep diri atau kepribadiannya berkurang ketergantungannya kepada orang lain. Ia memandang dirinya sudah mampu untuk mengatur dirinya sendiri, sehingga dalam proses pendidikan, para pendidik hanya sekedar mengarahkan.

Ada beberapa implikasi dari asumsi tersebut di atas, antara lain :

a. Iklim belajar
Iklim belajar harus disesuaikan dengan keadaan peserta belajar, seperti kursi, meja, atau yang lainnya yang dipakai anak-anak tentu berbeda dengan yang dipakai orang dewasa.

b. Partisipasi.

Partisipasi peserta belajar untuk anak-anak masih relatif belum dibutuhkan, akan tetapi untuk orang dewasa, tentu sangat dibutuhkan, seperti mengikutsertakan peserta belajar dalam merencanakan pembelajaran, mendiagnose kebutuhan belajar, mengevaluasi belajar, dan sebagainya. Karena dengan demikian, maka mereka akan termotivasi untuk belajar, merasa dihargai, dan sebagainya.

2. Pengalaman

Pengalaman pada anak-anak adalah sesuatu yang terjadi pada dirinya. Ini berarti pengalaman pada anak-anak merupakan rangsangan yang berasal dari luar, dan mempengaruhi dirinya. Akan tetapi untuk orang dewasa pengalaman itu adalah dirinya sendiri. Perbedaan pengalaman ini menimbulkan konsekwensi dalam proses belajar yaitu :

a. Karena orang dewasa lebih kaya pengalamannya, maka proses belajar pada mereka lebih ditekankan kepada teknik yang sifatnya menyerap pengalaman mereka, seperti diskusi, seminar, konferensi kerja, dan sebagainya.

b. Penekanan dalam proses belajar untuk anak-anak lebih ditekankan pada pengisian, karena mereka belum banyak pengalaman. Akan tetapi untuk orang dewasa, pada aplikasi praktis yang yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Kesiapan dan orientasi untuk belajar

Kesiapan untuk belajar pada anak-anak masih relatif rendah, karena umumnya mereka masih relatif suka bersenang-senang, bermain dan sebagainya, begitu juga tuntutan mereka tidak terlalu besar. Berbeda dengan orang dewasa, di mana tuntutan tanggung jawab makin besar, sehingga kesiapan belajar akan lebih tinggi.
Orientasi belajar anak-anak cenderung untuk mengumpulkan semua pengetahuan dan keterampilan, dan kelak akan dapat diterapkan. Berbeda dengan orang dewasa, apa yang dipelajari, secepat mungkin untuk dapat diterapkan.

Berdasarkan tersebut di atas, maka implikasi dalam proses belajar adalah sebagai berikut :

a. Para pendidik untuk anak-anak lebih proaktif, karena rangsangan dari para pendidik, sangat mempengaruhi terhadap kesiapan dan orientasi belajar mereka. Pada orang dewasa pendidik berperan sebagai teman, yang siap memberikan bantuan kepada orang yang belajar, karena mereka sudah siap dan segera dapat mengaplikasikannya.

b. Kurikulum dalam pendidikan untuk anak-anak berorientasi pada mata pelajaran yang sifatny hafalan. Sedang untuk orang dewasa berorientasi pada pemecahan masalah, karena mereka sudah siap untuk belajar dalam pemecaherdasarkan pengalamannya. 

Referensi:
http://kartika71tik.blogspot.com/2011/03/paedagogi-dan-andragogi.html
0 komentar

Perbedaan Pedagogi dan Psikologi Pendidikan

Contohnya langsung aja y?...

Pedagogi contohnya yaitu ibu dina mengajar dibimbing belajar MEDICA, nah ibu dina kan tiap hari memberikan kuis kepada anak bimbelnya,ternyata setelah dikoreksi ada anak bimbel yang bernama vila nilai kuisnya hanya skor 2 sementara teman-teman yang lainya nilai kuisnya berskor 7-9 nah disini vila kan mengalami nilai kuis yang rendah, nah disinilah psikologi pendidikan berperan dalam mengatasi masalah vial tersebut.

By: Ibu Filia Dina Anggaraeni

0 komentar

Andragogi

Apa Andragogi itu? 




              Andragogi berasal dari bahasa Yunani yaitu “andr” yang artinya orang dewasa, dan “agogos” yang artinya membimbing atau memimpin. Dari arti kata tersebut, berkembang pengertian bahwa andragogi adalah suatu ilmu dan seni dalam membantu orang dewasa belajar.

            Andragogi adalah suatu model proses pembelajaran peserta didik yang terdiri atas orang dewasa. Andragogi disebut juga sebagai teknologi pelibatan orang dewasa dalam pembelajaran, yang merupakan pengelompokan teori belajar berdasarkan usia dan kemampuan/persepsi berpikir untuk mengikuti proses belajar dalam pembelajaran. 
 
Orang dewasa ialah mereka yang telah melewati masa remaja dan memiliki kematangan fisiologik dan psikologi untuk melakukan suatu kegiatan. Metode pembelajaran orang dewasa terdiri atas metode individual, kelompok, massal. Motivasi belajar orang dewasa ada dua: (1) Motivasi internal, yang timbul dari dalam diri orang dewasa, (2) Motivasi eksternal, yang berupa rangsangan yang datang dari luar dirinya. Belajar dapat diartikan perubahan tingkah laku yang dialami oleh individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Belajar tidak selalu mensyaratkan kehadiran pendidik (fasilitator) atau gurunya. Pembelajaran merupakan upaya sistematis untuk membantu orang dewasa atau mengendalikan sikap dan perilakunya yang bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya. Teori belajar orang dewasa tidak hanya diketahui, tetapi harus dapat diaplikasikan dalam setiap kegiatan belajar dan membelajarkan agar proses/interaksi belajar yang dikelolanya dapat berlangsung secara efektif dan efisien.


Aplikasi Teori Andragogi dalam Kegiatan Belajar dan Pembelajaran
Permasalahan yang paling sering muncul dalam pelaksanaan pendidikan luar sekolah adalah hasil belajar, output dan outcomenya. Ketidakmampuan peserta memahami dengan baik materi dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan merupakan indikasi kurang berhasilnya kegiatan pendidikan luar sekolah. Rendahnya hasil belajar sebagai indikator dari ketidakberhasilan pembelajaran, dimana peserta maupun tidak mampu menerima dengan baik bahan belajar yang diajarkan oleh tutor. Salah satu penyebab ketidakberhasilan pembelajaran pendidikan luar sekolah adalah metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan prosedur pelaksanaannya dan andragogi belum diterapkan secara maksimal dalam pelaksanaan pembelajaran.
Secara jelas Knowles (1979: 11-27 ) menyatakan apabila warga belajar telah berumur 17 tahun, penerapan prinsip andragogi dalam kegiatan pembelajarannya telah menjadi suatu kelayakan. Usia warga belajar pada kelompok belajar program PLS rata-rata di atas 17 tahun, sehingga dengan sendirinya penerapan prinsip andragogi pada kegiatan pembelajarannya semestinya diterapkan.
Perlunya penerapan prinsip andragogi dalam pendekatan pembelajaran orang dewasa dikarenakan upaya membelajarkan orang dewasa berbeda dengan upaya membelajarkan anak. Membelajarkan anak (pedagogi) lebih banyak merupakan upaya mentransmisikan sejumlah pengalaman dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan di masa datang. Apa yang di transmisikan didasarkan pada pertimbangan warga belajar sendiri, apakah hal tersebut akan bermanfaat bagi warga belajar di masa datang. Sebaliknya, pembelajar-an orang dewasa (andragogi) lebih menekankan pada membimbing dan membantu orang dewasa untuk menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam rangka memecahkan, masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Ketepatan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan suatu kegiatan pembelajaran tentu akan mempengaruhi hasil belajar warga belajar.
Bagi tenaga kependidikan luar sekolah, teori belajar orang dewasa tidak hanya diketahui, tetapi harus dapat diaplikasikan dalam setiap kegiatan belajar dan membelajarkan agar proses atau interaksi belajar yang dikelolanya dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Berikut akan dikemukakan karakteristik dari setiap kegiatan belajar secara teori belajar orang dewasa yang dapat diaplikasikan pada setiap tahap kegiatan belajar.
Penerapan Andragogi dalam performansi Tutor
Tutor sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran orang dewasa. Tutor memasuki kelas dengan bekal sejumlah pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman ini seharusnya melebihi dari yang dimiliki oleh peserta. Seorang tutor dengan pengetahuan dan pengalamannya itu tidaklah cukup untuk membuat peserta untuk berperilaku belajar dalam kelas melainkan sikap tutor sangatlah penting. Seorang tutor bukan merupakan “pemaksa” untuk terjadinya pengaruh terhadap peserta, namun pengaruh itu timbul karena adanya keterlibatan mereka dalam kegiatan belajar. Untuk mengusahakan adanya perubahan, tutor hendaknya bersikap positif terhadap warga belajar.
Sikap seorang tutor mempunyai arti dan pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku warga belajar dalam kegiatan pembelajaran. Umumnya tutor yang memiliki daya tarik akan lebih efektif dari pada tutor yang tidak menarik. Sikap menyenangkan yang ditampilkan oleh tutor akan ditanggapi positif oleh peserta, pada gilirannya berpengaruh terhadap intensitas perilaku belajarnya. Sebaliknya, fasilitator yang menampilkan sikap tidak menyenangkan akan dinilai negatif oleh peserta, sehingga mengakibatkan kegiatan belajar menjadi tidak menyenangkan.
Ada beberapa hal yang dianggap penting dimiliki oleh para tutor dalam proses interaksi belajar yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya warga belajar, yaitu (1) bersikap manusiawi dan tidak bereaksi secara mekanis atau memahami masalah peserta didik hanya secara intelektual; ikut merasakan apa arti manusia dan benda bagi mereka; berada dan bersatu dengan peserta didik; membiarkan diri sendiri mengalami atau menyatu dalam pengalaman para peserta didik; merenungkan makna pengalaman itu sambil menekan penilaian diri sendiri, (2) Bersikap kewajaran: jujur, apa adanya, konsisten, terbuka; membuka diri; merespon secara tulus ikhlas, (3) Bersikap respek: mempunyai pandangan positif terhadap peserta; mengkomunikasikan kehangatan, perhatian, pengertian, menerima orang lain dengan penghargaan penuh; menghargai perasaan dan pengalaman mereka, dan (4) Membuka diri: menerima keterbukaan orang lain tanpa menilai dengan ukuran, konsep dan pengalaman diri sendiri; secara aktif mengungkapkan diri kepada orang lain dan mau mengambil resiko jika melakukan kekeliruan.
Penerapan Andragogi dalam Pengorganisasian Bahan Belajar
Pengorganisasian bahan belajar sedemikian rupa, memudahkan warga belajar dalam mempelajarinya. Pengorganisasian bahan belajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran. Setiap bahan belajar yang ingin disampaikan, harus dilihat dari ketertarikan warga belajar terhadap materi yang disampaikan, kesesuaian materi dengan kebutuhan warga belajar, dan kesamaan tingkat dan lingkup pengalaman antara tutor dan warga belajar
Bahan belajar yang berisi pengetahuan, keterampilan dan atau nilai-nilai akan disampaikan oleh tutor kepada warga belajar. Bahan belajar itu pula yang akan dipelajari oleh warga dalam mencapai tujuan belajar. Materi harus dipilih atas pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan situasi untuk penyesuaian perilaku warga belajar di dalam mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Materi itu pun akan mempengaruhi pertimbangan tutor dalam memilih dan menetapkan teknik pembelajaran.
Seorang tutor hendaknya mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar untuk diajarkan. Ketertarikan warga belajar dalam memilih dan mempelajari bahan belajar adalah merupakan manifestasi dari perilaku belajar warga belajar. Faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar adalah tingkat kemampuan peserta, keterkaitannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta, tingkat daya tarik bahan belajar, dan tingkat kebaharuan dan aktualisasi bahan.
Penerapan andragogi dalam Metode Pembelajaran
Penggunaan metode pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa berimplikasi pada penggunaan teknik pembelajaran yang dipandang cocok digunakan di dalam menumbuhkan perilaku warga belajar. Knowles mengklasifikasi teknik pembelajaran dalam mencapai tujuan belajar berdasarkan tipe kegiatan belajar, yakni; sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Kegiatan belajar pada pendidikan orang dewasa masih merupakan kegiatan belajar yang paling efisien dan paling dapat diterima serta merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa belajar. Oleh karena, kegiatan belajar merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa, maka penggunaan metode belajar diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Metode belajar orang dewasa adalah cara mengorganisir peserta agar mereka melakukan kegiatan belajar, baik dalam bentuk kegiatan teori maupun praktek. ( Anonim: 2006)
Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar, harus (1) berpusat pada masalah, (2) menuntut dan mendorong peserta untuk aktif, (3) mendorong peserta untuk mengemukakan pengalaman sehari-harinya, (4) menumbuhkan kerja sama, baik antara sesama peserta, dan antara peserta dengan tutor, dan (5) lebih bersifat pemberian pengalaman, bukan merupakan transformasi atau penyerapan materi.
Kegiatan belajar dan membelajarkan pada garis besarnya dapat dibedakan atas tahap-tahap:
1. Perumusan Tujuan Program
Tujuan program menyatakan domain tingkah laku serta tingkatan tingkah laku yang ingin dicapai sebagai hasil belajar. Selain dari itu warga belajar dapat memiliki kesiapan mental dalam mengikuti program kegiatan belajar yang akan dilaksanakan. Gagasan ini merupakan aplikasi dari hukum kesiapan mental dari Thorndike.
2. Pengembagan Alat Evaluasi dan Evaluasi Hasil Belajar
Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahap ini antara lain:
a. Pengembangan Kemamuan Pikir; merupakan teknik pengembangan kemampuan berpikir.
b. Hukum Efek; kegiatan belajar yang memberikan efek hasil belajar yang menyenangkan seperti nilai yang baik, cenderung untuk diulangi dan ditingkatkan.
c. Penguatan; pujian ataupun teguran/peringatan diberikan sesegera mungkin dan secara konsisten. Warga belajar perlu mengetahui hasil tesnya agar ia terdorong untuk terdorong lagi, dapat menilai usaha belajarnya untuk menghadapi tes berikutnya.
d. Keputusan Penyajian; hasil evaluasi dijadikan dasar untuk mengambil keputusan apakah pelajaran dapat dilanjutkan atau perlu diselenggarakan penjelasan remedial atau mengulang kembali bagian-bagian yang dianggap sukar.
e. Hasil Evaluasi; merupakan balikan bagi fasilitator tentang efektivitas/ kemampuan penyajiannya. Juga merupakan balikan bagi warga belajar untuk mengetahui penguasaan terhadap bahan pelajaran.
3. Analisis Tugas Belajar dan Identifikasi Kemampuan Warga Belajar
Kemampuan yang ingin dicapai senagai tujuan pembelajaran, diurai (dianalisis) atas unsur-unsur yang telah diidentifikasi tersebut diseleksi sehingga hanya unsur-unsur yang belum dikuasai sajalah yang dipilih sebagai bahan pelajaran. Pada tahap ini juga diidentikkan karakteristik individual warga belajar seperti: kecerdasa/bakat, kebiasaan belajar, motivasi belajar, kemampuan awal dan kebutuhan warga belajar, terutama yang menyangkut kesulitan belajarnya.
Teori belajar yang relevan dengan kegiatan analisis tugas, antara lain ialah:
a. Teori Gestalt, meliputi:
· Hukum Pragmanz (penuh arti) yaitu pengelompokan objek sesuatu bahan pelajaran berdasaran kriteria atau kategori tertentu seperti: warna, bentuk, ukuran.
· Hukum kesamaan atau keteraturan: tugas-tugas yang unsur-unsurnya mempunyai kesamaan dan teratur, lebih mudah dipahami daripada yang berbeda dan tidak teratur.
b. Teori Medan
Belajar memecahkan masalah adalah pengembangan struktur kognitif.
4. Penyusunan Strategi Belajar-Membelajarkan
Strategi belajar-membelajarkan pada hakikatnya adalah rencana kegiatan belajar dan membelajarkan yang dipilih oleh fasilitator untuk dilaksanakan, baik oleh warga belajar maupun oleh sumber belajar dalam rangka usaha pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahap ini antara lain ialah:
  1. Teori Bruner tentang cara mengorganisasikan batang tubuh ilmu yang dipelajari, urut-urutan pokok bahasan yang disajikan, teknik-teknik penyajian enaktif, ekonik dan simbolik.

  2. Teori penyajian bahan verbal yang bermakna menurut Ausubel.

  3. Penataan Situasi belajar yang menyangkut pengelolaan belajar dan kondisi belajar menurut Gagne.

  4. Metode belajar pemecahan masalah dengan teknik: ramu pendapat, metode buku catatan kolektif dan metode papan bulletin kolektif.

  5. Metode belajar/penyajian menemukan. Metode ini memudahkan transfer dan retensi, mempertinggi kemampuan memecahkan masalah serta mengandung morivasi intrinsik.

  6. Perbedaan individu dalam hal kecepatan belajar warga belajar.

  7. Pengaturan urutan-urutan penyajian bahan pelajaran menurut tingkat kesulitannya dari yang sederhana ke yang lebih sulit.
5. Pelaksanaan Kegiatan Belajar dan Membelajarkan
Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahapan ini antara lain ialah:
  1. Hukum kesiapan. Menyiapkan mental warga belajar untuk mengikuti pelajaran baru dengan memberikan penjelasan singkat mengenai pengetahuan prasyarat untuk mengikuti pelajaran baru/hal-hal yang telah dipelajari dan berhubungan erat dengan pelajaran baru.

  2. Penguatan dan Motivasi Belajar. Menjelaskan kegunaan/nilai praktis dari pelajaran baru dalam kehidupan dan penghidupan.

  3. Proses Pensyaratan (conditioning). Memperlihatkan model hasil belajar terminal untuk memudahkan warga belajar mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru.
d. Hukum Unsur-Unsur yang Identik. Menstransfer pengalaman pemecahan masalah lainnya yang mempunyai persamaan. Menerapkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam berbagai situasi, kondisi dan posisi.
e. Metode Menemukan. Memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk melakukan sendiri keterampilan yang harus mereka pelajari, jadi bukan fasilitator sendiri yang melakukan.
f. Cara Menarik Perhatian. Mengaitkan kegiatan belajar dan membelajarkan dengan kebutuhan warga belajar, mengolah bahan pelajaran sebagai bahan perlombaan antar individu, kelompok, dan baris.
g. Karya Wisata. Pengalaman praktik lapangan ataupun di laboratorium dan bengkel, permainan peran, permainan atau perlombaan, merupakan pengalaman yang berkesan bagi warga belajar dan memungkinkan mereka lebih mudah mengingat konsep-konsep pengertian kunci dan sebagainya.
6. Pemantauan Hasil Belajar
Teori belajar orang dewasa yang erat hbubungannya dengan tahapan ini antara lain:
  1. Hukum Latihan. Makin sering sesuatu pelajaran diulang makin dikuasai pelajaran itu.

  2. Belajar lanjut (overlearning). Belajar lanjut 50% (150%) lebih lama daya tahannya dalam ingatan.

  3. Revieu. Belajar dengan teknik revieu berkala lebih efektif daripada belajar terus-menerus tanpa revieu. (Mappa, 1994: 154).

Referensi

Mappa, Syamsu. 1994. Teori belajar Orang Dewasa. Jakarta: Departemen P dan K
 
;