Selasa, 10 April 2012

Teori Kognisi dan Bahasa


1.      Kognisi

Istilah kognisi berasal dari bahasa Latin cognoscere yang artinya mengetahui. http://id.shvoong.com/images/spacer.gif?s=summarizer&d=1331719938031&id=273206cf-974b-4c4a-9b0e-9e13b6659030Kognisi adalah istilah ilmiah untuk  proses pikiran, yaitu bagaimana manusia melihat, mengingat, belajar dan berpikir tentang informasi.
Kognisi dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencermikan pemikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Misalnya kemampuan anak untuk mengingat angka dari 1-20, atau kemampuan untuk menyelesaikan teka-teki, kemampuan menilai perilaku yang patut dan tidak untuk di imitasi. Proses kognitif menggabungkan antara informasi yang diterima melalui indera tubuh manusia dengan informasi yang telah disimpan di ingatan jangka panjang.
Kognisi sangat erat kaitannya dengan proses berpikir, dimana berpikir melibatkan proses manipulasi informasi secara mental, seperti membentuk konsep-konsep abstrak, menyelesaikan beragam masalah, mengambil keputusan, dan melakukan refleksi kritis atau menghasilkan gagasan kreatif.
Konsep (concepts) ialah proses dasar dari berpikir, karena konsep merupakan kategori-kategori mental yang digunakan untuk mengelompokkan objek-objek, kejadian-kejadian, dan beragam sifat. Konsep merupakan potongan/ bagian yang membangun pikiran manusia, oleh karena itu konsep sangat mempengaruhi pola berpikir setiap manusia. Pemahaman akan konsep akan menghasilkan kelanjutan dari proses berpikir yaitu pemecahan masalah.
Pemecahan masalah ialah suatu proses berpikir dalam mencapai suatu maksud / tujuan, dimana dalam mencapai tujuan tersebut terdapat berbagai hambatan yang berkaitan dengan penggunaan informasi-informasi dari konsep selama proses berpikir. Kemampuan manusia dalam memecahkan masalah sangat dipengaruhi oleh konsep berpikir yang dimiliki oleh manusia tersebut.

2.      Bahasa

Bahasa dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk menginterpretasikan atau menyampaikan isi pikiran dari seseorang dengan yang lainnya. Bahasa merupakan suatu proses kognitif yang paling signifikan (jelas) yang ada pada manusia.
Bahasa distrukturkan atau dikendalikan oleh nalar manusia. Kemampuan berbahasa merupakan hasil dari proses kognisi yang telah matang yang ada pada manusia. Titik awal dari teori kognitif ialah anggapan terhadap kapasitas kognitif seseorang dalam menemukan suatu struktur bahasa yang ada disekelilingnya. Proses belajar bahasa secara kognitif merupakan proses kognitif yang kompleks karena menyangkut lapisan bahasa yang terdalam. Lapisan bahasa tersebut ialah: ingatan (memori), persepsi, pikiran, makna dan emosi yang saling berpengaruh dalam jiwa manusia.
Dengan bahasa individu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengkomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang atau simbol yang tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran. Struktur bahasa sangat dipengaruhi oleh struktur pikiran (kognisi) suatu individu. Bahasa dapat dianalogikan sebagai jalan atau cara dalam mengapresiasikan hasil proses berpikir kompleks yang digunakan dalam pemecahan masalah yang ada dalam lingkungan hidup individu.


STUDI KASUS 1


Seorang anak berumur 5 tahun diidentifikasi mengalami autisme, dimana ia dalam usianya belum dapat melakukan perkembangan baik secara motorik dan emosional. Kelainan sikap yang dimiliki anak ini mulai disadari orangtuanya ketika ia berumur 2 tahun, dimana pada saat itu anak seusianya sudah dapat mulai belajar untuk berbicara, anak ini malah memiliki keterlambatan kemampuan bicara hingga usianya seperti sekarang ini, semakin bertambah usia, perilaku anak ini semakin mencurigakan orangtuanya seperti anak ini mulai seperti memiliki dunianya sendiri, terkadang tertawa sendiri, menangis sendiri dan marah-marah sendiri, dan anak ini sangat sulit dalam kemampuan kontak mata dengan lawan bicara, ekspresi wajah anak tidak dapat dengan jelas dimengerti dan hiperaktif.
Dalam kaitannya dengan kognisi, autis disebabkan oleh kerusakan area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, sehingga anak penderita autis tidak mampu mengkoordinasikan kemampuan kognisinya dalam kemampuan berbahasa maupun kemampuan dasar lainnya yang dimiliki anak normal.
Anak penderita autisme cenderung tidak memiliki kemampuan berbahasa yang baik, serta tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal, sering menggunakan bahasa aneh dan berulang-ulang.
Bahasa yang merupakan jembatan antara kognisi dan perilaku bagi setiap individu tidak dapat melakukan perannya sebagaimana mestinya pada penderita anak autis, sehingga hasil dari proses kognisi dan berbahasa yang tidak sebagaimana mestinya, anak autis memiliki taraf kemampuan yang jauh berbeda dengan usianya. Sebagai contoh anak autis berusia 10 tahun hanya dapat melakukan kemampuan kognitif dan berbahasa yang dimiliki anak berusia 5 tahun.




STUDI KASUS 2
    
Jika melihat bagaimana anak-anak berusia 3 tahun berkomunikasi, maka kita akan melihat anak-anak tersebut umumnya hanya berbicara perkata saja. Contohnya, seorang anak yang berusia 3 tahun rata-rata hanya dapat mengatakan kata “mama”, “papa”, “hai”, dan kata-kata lain yang mudah diucapkan oleh mereka. Hal tersebut dikarenakan kognitif mereka yang baru akan berkembang, sehingga dalam berbahasa pun mereka masih menggunakan kata-kata yang sederhana. 

1.      Definisi Kognisi

Kognisi dapat didefinisikan sebagai proses intelektual (seperti persepsi, memori, fikiran, dan bahasa) sebagai proses intelektual dimana informasi diperoleh, diubah, disimpan, diambil, dan digunakan. Tiga aspek utama :
1.      kognisi memproses informasi. Informasi adalah bagian dari kognisi : bagian yang diperoleh, diubah, disimpan, dan digunakan. Dan kategori ini dibahas dalam bentuk kategori atau konsep.
2.      kognisi bersifat aktif. informasi yang kita terima secara aktif diubah, disimpan, dan  
digunakan dalam proses kognisi. pada kognisi, informasi di :
            a.       Informasi diperoleh melalui indera
b.      Informasi ditransformasi melalui proses persepsi dan berfikir
c.       Informasi disimpan dan didapatkan kembali melalui proses persepsi
d.      Informasi digunakan pada pemecahan masalah dan bahasa
 3.  kognisi berguna. maksudnya yaitu memiliki tujuan. kita berfikir karena ada sesuatu yang  
      tidak kita pahami. kita gunakan bahasa saat kita ingin berkomunikasi dengan yang lain.
      kita menciptakan saat kita butuh sesuatu yang tidak ada. manusia berfikir untuk bertahan
      hidup secara fisik dan di lingkungan sosial.

2.      Konsep :  Unit Dasar dari Berfikir
Konsep adalah unit dasar dari berfikir. Konsep adalah kategori umum dari hal, peristiwa, dan kualitas yang dihubungkan berdasarkan suatu ciri-ciri yang umum tanpa memedulikan perbedaan mereka. Contohnya dapat dilihat pada sepeda. Pada umumnya banyak sekali jenis sepeda tapi kita tahu bahwa semua sepeda memiliki ciri umum yang sama yaitu memiliki dua roda, pedal, dan setang. Dan kita tahu apa-apa saja yang bukan sepeda seperti motor, mobil, dan lain-lain.

Empat alasan kenapa konsep sangat penting.
1.      Konsep memungkinkan kita untuk melakukan generalisasi.
Bila kita tidak memiliki konsep, setiap objek dan kejadian dalam dunia kita akan menjadi unik dan sesuatu yang baru untuk kita setiap kita berhadapan dengannya.
2.      Konsep memungkinkan kita untuk membuat asosiasi pengalaman dan benda-benda yang ada.
Bola basket, hoki es, dan lari dalam lintasan merupakan contoh-contoh olahraga. Konsep olahraga memberikan kita cara untuk membandingkan aktivitas-aktivitas ini.
3.      Konsep membantu ingatan, membuatnya menjadi lebih efisien, sehingga tidak harus menciptakan kembali pemahaman atau makna ketika kita berhadapan dengan potongan informasi.
4.      Konsep menyediakan petunjuk mengenai bagaimana kita bereaksi terhadap suatu pengalaman tertentu.

Dua model diajukan untuk menjelaskan struktur konsep yang ada di dalam pikiran model klasik dan model purwarupa. Model klasik (classical model) yaitu semua hal memiliki ciri yang membedakannya dari hal lainnya. Contohnya, konsep segitiga membutuhkan bentuk geometrik yang memiliki tiga sisi. Pandangan tentang konsep ini mendeskripsikan kategori bentuk geometrik dengan baik, namun hal ini belum tentu sudah lengkap. Bila sebuah konsep tergantung pada karakteristik pembedanya, maka upaya untuk memspesifikasikan ciri-ciri ini harus dapat dilakukan secara langsung. Namun, hal ini akan sulit dilakukan pada sejumlah konsep yang sering digunakan. Contohnya, “dapat terbang” dapat menjadi konsep pembeda dari konsep burung. Namun, burung unta dan pinguin adalah kelompok burung yang tak dapat terbang. Keterbasan lain dari konsep ini adalah tidak dapat menjelaskan bagaimana orang dapat membuar penilaian mengenai beberapa bagian dari sebuah konsep sebagai sesuatu yang tipikal dibandingak dengan yang lainnya.
Model purwarupa (prototype model) menekankan bahwa ketika seseorang menilai apakah bagian tertentu menunjukkan konsep tertentu, mereka membandinkan bagian tersebut dengan bagian-bagian yang paling tipikal untuk menggambarkan konsep tersebut dan mencari untuk “kesamaan kelompok”. Burung biasanya terbang, berkicau, dan membangun sarang, namun ada beberapa kelompok yang menunjukkan pengecualian seperti pinguin yang tak bisa terbang, berkicau dan membangun sarang. Model purwarupa beranggapan bahwa ciri-ciri yang membedakan dari konsep lain digunakan untuk menciptakan gambaran mengenai kebanyakan atau anggota ideal ideal dari setiap konsep.

2.1  Jenis-jenis Konsep
1.      Simple Consept, didasarkan pada satu ciri umum saja, misalnya konsep merah. Jika suatu benda bewarna merah maka benda itu akan masuk ke dalam konsep merah tanpa memedulikan karakteristik lainnya.
2.      Complex Concept, didasarkan pada ciri-ciri yang lebih kompleks.
a.       Conjuctive Concepts didefinisikan oleh kehadiran simultan dari dua atau lebih karakteristik umum. Konsep bibi adalah contoh dari conjunctive concept karena bibi memiliki dua simultan yang mendefinisikan karakteristik (perempuan dan seorang kakak dari orang tua mu). Jadi, untuk masuk ke dalam konsep tersebut, suatu objek harus memiliki semua ciri-ciri yang ada.
b.      Disjuctive Concepst didefinisikan oleh kehadiran satu karakteristik umum atau yang lainnya, atau keduanya. Contohnya, seseorang bisa saja dianggap skizofrenia jika ia terus-menerus memiliki pengalaman salah dalam persepsi (seperti mendengan suara-suara yang sebenarnya tak ada) atau terus menerus menyakini sesuatu yang salah (seperti mempercayai bahwa ia adalah raja atau agen CIA), atau keduanya. Jadi, untuk masuk ke dalam konsep tersebut, suatu objek harus memiliki satu ciri tertentu atau ciri lainnya.
2.2 Natural Concepts
Ditemukan oleh Eleanor Rosch (1973) yang menyatakan bahwa beberapa konsep lebih mudah untuk dipelajari manusia daripada yang lainnya; dan beberapa konsep lebih natural. Menurut Rosch, natural concepts punya dua karakteristik utama, yaitu basic dan prototypical.
2.3 Konsep Natural Dasar.
Konsep dasar adalah salah satu konsep yang memiliki tingkat medium inklusif. Inklusif hanya mengacu pada jumlah bagian-bagian yang termasuk dalam konsep. Tiga tingakat inklusif yang dikemukakan oleh Rosch :
1.      Superordinate concepts are very inclusive. Mengandung banyak bagian. Misalnya kendaraan, kendaraan adalah konsep superordinat yang mengandung banyak jenis seperti motor, kapal, pesawat, dan lain-lain
2.      Basic concepts are of a medium degree of inclusiveness. Mobil sebagai contoh dari konsep dasar karna mobil sedikit dibawah konsep superordinat yang berupa kendaraan, tapi kategori ini masih terdiri dari banyak jenis.
3.      Subordinate concepts are the least inclusive level of concepts. Contoh nya seperti mobil jenis olahraga yang tingkatannya dibawah konsep dasar dan konsep superordinat.

Rosch menyatakan bahwa konsep dasar lebih natural dan oleh karena itu lebih mudah dipelajari dan digunakan. Anak-anak biasanya mempelajari konsep dasar, seperti mobil  sebelum mereka mempelajari konsep superordinat atau subordinat.
Rosch menyatakan bahwa penjelasan tentang berbohong pada beberapa karakteristik dari konsep dasar yang “pas” pada intelektual manusia dengan sangat baik.
1.      Basic concepts share many attributes. Sebagai contoh, bagian dari konsep dasar obeng digunakan untuk memutar sekrup, memiliki tonjolan logam, memiliki pegangan, biasanya 4 sampai 10 inci, dan sebagainya. Kategori superordinat alat memiliki karakteristik kesamaan yang jauh lebih sedikit.
2.      Members of basic concepts share similar shapes. Semua obeng (konsep dasar) memiliki bentuk yang hampir sama, tetapi kesamaan itu tidak dapat dikatakan untuk semua alat (konsep superordinat).
3.      Member of basic concepts often share motor movements. Gerakan motor yang berhubungan dengan bagian dari tingkat konsep dasar yang mirip (memutar obeng), tapi kesamaan itu tidak bisa dikatakan untuk konsep superordinat (gerakan motor untuk menggunakan berbagai jenis alat ini sangat berbeda).
4.      Basic concepts are easily named. Jika Anda diminta untuk menyebutkan setengah lusin objek dalam kelas Anda, sebagian besar kata-kata yang akan Anda gunakan mungkin akan mengacu pada konsep dasar dimana benda itu dikelompokkan. Bila mengacu pada obeng berlapis krom, kita cenderung untuk mengatakan itu obeng bukan perkakas atau obeng berlapis krom.
Rosch berpendapat bahwa empat karakteristik dari konsep dasar membuat mereka lebih "alami"-lebih mudah dipelajari dan digunakan dalam sistem pengolahan informasi manusia.

2.4  Konsep Natural adalah Prototipe yang Baik

Karakteristik kedua dari konsep natural menyatakan bahwa mereka adalah contoh yang baik, atau prototipe (Rosch, 1975). Jika Anda diminta untuk memberikan contoh terbaik, atau prototipe, dari konsep superordinat "mainan", Anda mungkin berkata "boneka" atau mainan "truk pemadam kebakaran", tapi Anda tidak mungkin mengatakan "bak pasir". Demikian pula, Anda mungkin berpikir "kursi" atau "sofa" sebagai prototipe dari konsep superordinat dari "furnitur" tetapi Anda tidak akan memikirkan "karpet". Rosch menunjukkan bahwa konsep natural bisa menjadi kedua bagian dari dasar dan prototipe yang baik.
Dalam penelitiannya dengan suku Dani Papua Nugini, Rosch (1973) telah memberikan bukti menarik untuk mendukung gagasannya bahwa konsep natural adalah prototipe yang baik. Suku ini memiliki teknologi yang sangat terbatas pada tahun 1970, hanya memiliki dua konsep warna dalam kosakata: "mola" untuk warna terang dan "mili" untuk warna gelap. Oleh karena itu, orang-orang ini adalah individu yang ideal untuk penelitian pada belajar konsep warna baru.
Dani yang merupakan partisipan dari penelitian Rosch diajarkan untuk memberikan label pada kategori warna yang berhubungan dengan keduanya, yaitu "murni" warna primer (panjang gelombang yang dekat bagian tengah dari kisaran digambarkan sebagai merah atau biru, misalnya) dan warna menengah (seperti hijau kebiruan). Kedua jenis nama warna adalah konsep-konsep dasar (dengan konsep superordinatnya "warna"), tetapi Dani mempelajari nama-nama warna primer dengan lebih mudah.

3.      Pemecahan Masalah 

Menurut Tennysen (1979) dalam Wasis (1999) masalah adalah suatu keadaan dimana pengetahuan yang tersimpan dalam memori untuk melakukan suatu tugas pemecahan belum siap pakai. Sedangkan menurut Ellen D. Gagne (1985) menyebut masalah sebagai ada tujuan tetapi belum diidentifikasi cara mencapainya.
Dengan simpulan lain, masalah merupakan kesenjangan antara tujuan yang ingin diselesaikan dengan pengetahuan yang siap pakai. Pengetahuan yang siap pakai berkaitan dengan pikiran (kognisi) yang dipakai dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Pemecahan masalah menurut Robert W. Bailey (1989) merupakan suatu kegiatan kompleks dan tingkat tinggi dari proses mental seseorang. Sedangkan pemecahan masalah menurut Laura A. King ialah usaha untuk menemukan cara yang tepat untuk mencapai sebuah tujuan ketika tujuan tersebut tidak dapat langsung diraih.
Sehingga apabila kedua pendapat ini dikombinasikan, pemecahan masalah ialah usaha dalam menemukan cara yang tepat dalam mencapai sebuah tujuan dan dalam pencapaian tersebut menggunakan proses dengan metode kompleks dari penggunaan pikiran (kognisi) dan mental seseorang.
Keterampilan seseorang dalam pemecahan masalah sangat berkaitan dengan kreativitas berpikir seseorang, dan kreativitas berpikir itu sendiri diperoleh berdasarkan proses belajar yang telah dialami oleh seseorang dalam bentuk pengamalan hidup. Sebagai contoh, kemampuan memecahkan suatu masalah oleh anak SMP dengan usia 13-15 tahun pasti amat berbeda dengan anak SMA dengan rentang usia 16 tahun keatas. Hal ini dikarenakan proses belajar yang dilakukan oleh mental anak SMP berbeda dengan anak SMA.
Dasar kognitif (kemampuan berpikir) dalam pemecahan masalah berkaitan dengan hal-hal berikut: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintetis dan evaluasi.
Menurut Robert W. Balley (1989) ada 3 poin penting dalam pemecahan masalah, yaitu:

3.1  Mengidentifikasi permasalahan
Proses identifikasi merupakan proses awal dimana seseorang lewat memori pengalaman yang dimilikinya dapat membedakan yang mana yang disebut dengan masalah dan yang mana yang tidak. Kesalahan yang dilakukan dalam mengidentifikasi masalah ini berawal dari kesalahan belajar konsep, dimana belajar konsep membuat suatu pengelompokan atau pengkategorian data-data yang ada, sehingga dengan adanya pengkategorian data tersebut proses kognisi manusia akan terbentuk untuk mengidentifikasi masalah.

3.2  Sistematika penyusunan dalam penyelesaian masalah
Dalam menyelesaikan masalah, dibutuhkan adanya strategi awal (perencanaan) akan pendekatan yang bagaimanakah yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam Laura A. King, terdapat beberapa metode yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pendekatan masalah itu sendiri:
-          Subgoaling
Yang dimaksudkan disini ialah membuat suatu penyusunan akan tujuan-tujuan kecil dan utama dari setiap poin permasalahan, sehingga dengan adanya subgoaling, kerangka pemecahan masalah mulai terbentuk secara perlahan. 
-          Algorithms
Algoritma yang dimaksud disini ialah solusi pemecahan masalah yang sistematis dan terjamin. Algoritma dapat berupa bentuk instruksi, rumus dan menguji kemungkinan. Tetapi metode ini jarang digunakan karena memakan waktu dan usaha yang relatif rumit.
-          Heuristik
Heuristik merupakan strategi pemecahan masalah dengan menggunakan panduan atau arah, tetapi dengan cara ini tidak dijamin akan memperoleh adanya pemecahan masalah yang akurat karena kurangnya evaluasi terhadap setiap kemungkinan solusi yang ada.

3.3  Alternatif Penyelesaian Masalah
Dengan adanya proses identifikasi masalah berdasarkan kategori-kategori tertentu dan dilakukannya penyusunan strategi dalam penyelesaian masalah, maka pada tahap ini akan diperoleh berbagai solusi alternatif yang akan dievaluasi lebih lanjut lagi dalam menyelesaikan masalah. Pengevaluasian solusi-solusi alternatif masalah ini sangat didukung oleh konsep pikiran manusia tersebut tentang kriteria keefektifan solusi. Dimana berdasarkan pengalaman yang berbeda-beda dari tiap orang, konsep kriteria pemecahan masalahnya juga berbeda.
Dalam proses melaksanakan solusi yang telah diproses tadi, manusia juga melakukan proses belajar, dimana apabila dengan solusi yang telah dipilih dapat menyelesaikan permasalahan yang ada, maka untuk permasalahan selanjutnya manusia akan cenderung mengikuti pola-pola pemecahan masalah yang telah ia pelajari sebelumnya. Dan manusia tentu akan menambahkan konsep baru dalam pemecahan masalah yang akan dihadapi selanjutnya, dan bersedia mengembangkan pemahamannya akan pemecahan masalah dan melakukan perbaikan atas kesalahan-kesalahan dalam tahapan-tahapan menyelesaikan masalah yang telah terjadi sebelumnya.

3.4  Faktor Emosional dalam Membuat Keputusan
Suasana hati mempengaruhi cara berpikir kita. Suasana hati negative dan positif ditemukan memiliki hubungan dengan penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
Suasana hati negative dihubungkan dengan proses  berpikir yang sempit dan analitis. Orang yang merasa sedang rewel cenderung tidak menggunakan heuristik dan melihat permasalahan dengan lebih hati-hati, dan mengambil kesimpulan dengan logika. Sebaliknya, suasana hati positif berhubungan dengan penggunaan heuristic dan membuat kesalahan. Para peneliti menjelaskan hal ini dalam dua cara:
1.      Ditunjukkan bahwa suasana hati positif menyebabkan otak memunculkan asosiasi yang beragam dalam ingatan, sehingga orang tidak dapat memikirkan masalah yang tengah dihadapinya.
2.      Disebutkan bahwa orang-orang yang tengah bahagia menjadi terlalu sibuk untuk mempertahankan suasana hati positif mereka dan berhenti memikirkan masalah yang tengah dihadapinya.
Penelitian ini sedikit memberikan gambaran negative tentang orang-orang yang bahagia. Dibawah pengaruh suasana hati yang positif, orang-orang tidak dapat diharapkan untuk berpikir dengan sangat jernih. Dalam suasana hati yang bagus, orang cenderung untuk fleksibel dalam berpikir dan untuk menjadi kreatif dalam pembentukan konsep dan strukturnya.
Suasana hati positif juga berhubungan dengan penyelesaian masalah secara kreatif. Suasana hati positif membuat kita menjadi penghasil gagasan yang lebih baik dan lebih terbuka pada segala macam fantasi.
Bertentangan dengan penelitian sebelumnya, Isen (2004) menunjukkan bahwa suasana hati positif cenderung untuk terlibat dalam pemikiran yang mendalam untuk menanggapi situasi yang ada dan mempelajari masalah yang ada.
Suasana hati bahagia membuat kita lebih efisien untuk menetapkan pilihan yang memuaskan, sementara suasana hati yang tidak bahagia membuat kita tersesat dalam pikiran yang tidak perlu.



3.5  Pemecahan Masalah Secara Kreatif Dengan Pemikiran Konvergen dan Divergen

Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat produk atau ide-ide baru yang berguna bagi orang lain.
Konsep mengenai pemikiran konvergent dan divergent yang dikemukakan oleh Guilford seorang psikolog Amerika (1950, 1967) menjadi awal yang sangat baik dalam pemahaman kreativitas.  Pemikiran Konvergent merupakan pemikiran secara logis dan konvensional yang berfokus pada masalah sampai ditemukan solusinya. Sebagai contohnya, ketika kita diminta untuk memecahkan masalah aljabar, kita akan menggunakan keterampilan pemikiran konvergen untuk memberikan jawaban. Dalam hal ini, Pendidikan formal lebih menekankan pengajaran dan penilaian dengan menggunakan pemikiran konvergen. Siswa didorong untuk menemukan jawaban yang benar. Sebaliknya, pemikiran Divergen diatur dengan longgar, hanya sebagian diarahkan dan tidak konvensional. Tidak seperti pemikiran konvergen, pemikiran divergen menghasilkan jawaban yang harus dievaluasi secara subyektif.  Pemikir divergen, dengan kata lain, lebih mudah keluar dari mind-set yang membatasi pemikiran kita. Dalam budaya kita, orang-orang yang menggunakan pemikiran divergen  cenderung dianggap kreatif (Butcher, 1968).
Selain menjadi pemikir divergen, individu yang kreatif kerap digambarkan sebagai orang-orang yang memiliki karakteristik berikut (Perkins, 1994).
a.       Berpikir secara fleksibel dan suka bermain dengan pikiran : orang yang berpikir secara kreatif selalu fleksibel dan bermain dengan beragam masalah. Walaupun kreativitas membutuhkan kerja keras, namun bila dianggap sebagai sesuatu yang ringan, maka akan berjalan dengan lancar. Dalam cara ini, lelucon menjadi pelumas untuk pergerakkan roda gagasan yang kreatif (Goleman, kaufman, & Ray, 1993).
b.      Motivasi internal : Orang-orang kreatif sering kali dimotivasi oleh kepuasan dalam menciptakan sesuatu. Mereka cenderung kurang terdorong untuk mencapai nilai , uang ataupun pujian dari orang lain. Hal itu disebabkan karena orang-orang kreatif termotivasi dari dalam diri dan bukan dari luar.
c.       Keinginan untuk menghadapi risiko: orang-orang kreatif membuat lebih banyak kesalahan dibandingkan mereka yang kurang kreatif. Hal ini bukan karena mereka kurang ahli, tetapi ini disebabkan karena mereka menghasilkan lebih banyak gagasan dan kemungkinan juga kehilangan atau gagal lebih banyak. Contohnya seniman asal Spanyol, Pablo Picasso menciptakan lebih dari 20.000 lukisan, namun tidak semuanya merupakan karya luar biasa. Para pemikir kreatif belajar untuk menghadapi ketidakberhasilan dalam proyek dan melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar.
d.      Penilaian objektif dari suatu karya. kebanyakan Pemikir kreatif berusaha untuk mengevaluasi kerja mereka secara objektif. Mereka mungkin menggunakan sejumlah kriteria yang sudah ada untuk membuat penilaian tertentu atau mengandalkan penilaian dari orang yang dihormati dan dipercaya.
Dengan cara ini, mereka dapat menentukan apakah proses berpikir kreatif lebih jauh akan dapat meningkatkan kualitas kerja mereka.
Terlepas dari kemampuan individu, bagaimana proses kreatif terjadi?
Beberapa tahun yang lalu, Wallas (1962) mengemukakan bahwa pemecahan masalah secara kreatif biasanya berlangsung dalam empat langkah:
1.               persiapan, upaya awal untuk merumuskan masalah, mengingat fakta yang relevan, dan berpikir tentang solusi yang mungkin.
2.               inkubasi: adalah masa istirahat. Wallas menggunakan inkubasi panjang untuk membandingkan solusi kreatif bagi gagasan yang harus diinkubasi selama beberapa saat sebelum dikeluarkan. orang yang mencoba untuk memecahkan masalah yang sulit yang membutuhkan solusi kreatif umumnya merasa perlu untuk mengesampingkan masalah untuk sementara waktu setelah masa persiapan awal.
3.               illumination/ Pencerahan: Mengacu kepada wawasan yang berhubungan dengan solusi. Dimana semua potongan informasi yang kita punya tentang masalah tersebut tampak saling melengkapi dan cocok.
4.               Verifikasi: melibatkan langkah penting tapi terkadang tahap ini merupakan antiklimaks dari pencarian solusi.



3.6  Keragaman Manusia: Pengaruh Budaya Terhadap Penyimpulan Penalaran
Penelitian psikologis telah mengungkapkan beberapa hal penting di mana orang yang dibesarkan dalam budaya yang berbeda memiliki cara berpikir berbeda pula. Misalnya, karena Hong Kong merupakan koloni Inggris selama 100 tahun, banyak warganya yang dibesarkan dalam budaya yang mengandung banyak unsur barat dan  asia timur. Seorang psikolog yang berasal dari Universitas Hong Kong, Ying-Ying Hong meyakini bahwa seseorang Dwibudaya beralih antara dua mind-set mereka, budaya ketika mereka bergerak antara budaya cina dan barat. Misalnya, seorang imigran ke amerika serikat mungkin berpikir dan bertindak dengan cara yang sesuai dengan budaya Amerika di tempat kerja, tetapi beralih ke budaya cina ketika di rumah bersama suami dan orang tua.

4.      BAHASA : SIMBOL KOMUNIKASI

4.1  Pengertian Bahasa
Bahasa  adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbiter (tidak ada hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya) yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi (pertukaran informasi antara pikiran dan perasaan).
Bahasa memungkinkan kita berkomunikasi dengan orang lain di sekitar kita. Bahasa juga memungkinkan kita untuk memikirkan tentang hal-hal dan proses-proses yang terjadi yang tidak dapat kita lihat, rasa, dengar, sentuh , atau baui. Hal-hal ini mencakup mengenai ide-ide ataupun konsep-konsep yang tidak memiliki bentuk / wujud untuk diserap indera kita.
Walaupun fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi, tetapi tidak semua komunikasi dilakukan lewat bahasa. Komunikasi juga memadu aspek-aspek lain di luar bahasa ujaran. Aspek-aspek tersebut antar lain :
·         Aspek pertama
Komunikasi dapat dilakukan dengan cara-cara non-verbal (misalnya : bahasa tubuh).
Contoh : Saat sedang sedih biasanya raut wajah seseorang akan tampak murung. Hal ini dapat member informasi bagi orang lain bahwa seseorang itu sedang bersedih tanpa harus memberitahu lewat bahasa ujaran.

·         Aspek kedua
Komunikasi bisa dilakukan lewat tatapan karena tatapan bisa menggambarkan banyak tujuan.
Contoh : Tatapan mata yang tajam dan menakutkan bisa saja menjadi indikasi bahwa seseorang sedang marah dan kesal.

·         Aspek ketiga
Dalam aspek ketiga ini komunikasi juga dapat dilakukan lewat sentuhan atau kontak fisik yang bermakna.
Contoh : Kita sering memnberikan ucapan selamat kepada seseorang dengan jabatan tangan atau sebuah pelukan.

4.2  Hakikat Bahasa

Arti kata hakikat menurut KBBI memiliki pengertian intisari atau mendasar. Jadi, hakikat bahasa dapat dipahami sebagai sesuatu yang mendasar dari bahasa.
Hakikat Bahasa diantaranya :
·         Bahasa sebagai alat komunikasi
Bahasa menjadi penyampai pesan dari penyapa kepada yang disap. Komunikasi harus bermakna atau berarti baik bagi penyapa atau pesapa. Komunikasi dapat bermakna jika sistem tanda yang digunakan sebagai alat komunikasi tersebut informatif.
·         Bahasa bersifat arbitrer
Pengertian arbitrer dalam studi bahasa adalah manasuka, asal bunyi, atau tidak ada hubungan logis antara kata sebagai simbol (lambang) dengan yang dilambangkan. Arbitrer berarti dipilih secara acak tanpa alasan sehingga ciri khusus bahasa tidak dapat diramalkan secara tepat.Secara leksis, kita dapat melihat kearbitreran bahasa. Kata anjing digunakan dalam bahasa Indonesia, Biang dalam bahasa Batak, Dog dalam bahasa Inggris. Hal ini memiliki kata yang berbeda untuk menyatakan konsep yang sama. Kearbitreran bahasa di dunia ini menyebabkan adanya kedinamisan bahasa.
·         Bahasa sebagai system
Setiap bahasa memiliki sistem, aturan, pola, kaidah sehingga memiliki kekuatan atau alasan ilmiah untuk dipelajari dan diverifikasi. Pada hakikatnya, setiap bahasa memiliki dua jenis sistem yaitu sistem bunyi dan sistem arti. Sistem bunyi mencakup bentuk bahasa dari tataran terendah sampai tertinggi (fonem, morfem, baik morfem bebas maupun morfem terikat, frase, paragraf, dan wacana).
Sistem bunyi suatu bahasa tidak secara acak- acakan, tetapi mempunyai kaidah- kaidah yang dapat diterangkan secara sistematis. Sistem arti suatu bahasa merupakan isi atau pengertian yang tersirat atau terdapat dalam sistem bunyi.
Sistem bunyi dan sistem arti memang tidak dapat dipisahkan karena yang pertama merupakan dasar yang kedua dan yang kedua merupakan wujud yang pertama.
·         Bahasa memiliki makna
Makna adalah arti, maksud atau pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan untuk menghubungkan bentuk kebahasaan tersebut dengan alam di luar bahasa atau semua hal yang ditunjuknya.
·         Bahasa bersifat produktif / generatif
Hal ini diartikan sebagai kemampuan unsur bahasa untuk menghasilkan terus- menerus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur- unsur baru. Prefik /meN-/ dan /di-/, misalnya dapat melekat pada setiap kata kerja dan fungsinya masing- masing membentuk kata kerja aktif dan kata kerja pasif dalam bahasa Indonesia.
·         Bahasa bersifat universal
Bahasa merupakan sesuatu yang berlaku umum dan dimiliki setiap orang. Pada sifat internal bahasa, universal adalah kategori linguistik yang berlaku umum untuk semua bahasa.
·         Bahasa bersifat unik
Hal ini terlihat dari studi bahasa adalah kategori bahasa yang tersendiri bentuk dan jenisnya dari bahasa lain. Setiap bahasa ada perbedaan dengan bahasa lain meskipun termasuk dalam bahasa serumpun.
·         Bahasa bersifat dinamis
Bersifat dinamis maksudnya bahwa bahasa selalu berkembang dari waktu ke waktu. Bahasa Indonesa yang kita pakai sekarang bukanlah bahasa yang tidak pernah berkembang. Bahkan, bahasa Indonesia yang dipakai sekarang merupakan hasil dari pekembangan bahasa Melayu yang tentunya sangat berbeda dengan bahasa Indonesia yang kita pakai sekarang.
·         Bahasa bersifat konvensional
Konvensional dapat diartikan sebagai satu pandangan atau anggapan bahwa kata- kata sebagai penanda tidak memiliki hubungan instrinsik atau inhern dengan objek, tetapi berdasarkan kebiasaan, kesepakatan atau persetujuan masyarakat yang didahului pembentukan secara arbitrer. Tahapan awal adalah manasuka/arbitrer, kemudian hasilnya disepakati/ dikonvensikan, sehingga menjadi konsep yang terbagi bersama (socially shared concept).
Setiap kita berbicara, kita terlibat dalam konvensi. Jika seseorang melihat kata kursi atau mendengar bunyi kursi, secara langsung dapat mengetahui bahwa kata itu merujuk pada sesuatu yang lain. Kita tahu bahwa tidak ada hubungan yang inhern antara kata kursi dengan benda kursi. Kata itu merujuk pada benda karena ada konvensi penamaan atau penyebutan benda tertentu dengan suatu nama tertentu.

4.3  Semantik : Makna dari Ucapan/Ujaran

Semantik dari (Bahasa Yunani : Semantikos yang berarti memberikan tanda, penting; dari kata Sema : tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: Sintaksis (akan dijelaskan kemudian). pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.
Ditinjau dari fungsi bahasa, semantik dan bahasa sangatlah berkaitan erat. Fungsi bahasa adalah untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu yang dimaksud adalah yang bermakna yang dikomunikasikan / disampaikan lewat bahasa. Disinilah letak hubungan antara semantik dan bahasa.

 Tahap Awal Perkembangan Bahasa

Salah satu hal yang paling menarik dari perkembangan bahasa adalah interaksi linguistik anak dengan orangtua dan kepatuhan anak pada peraturan tertentu. Walau anak telah mempelajari konsep dan kosakata sejak usia dini, namun mereka huga mempelahari bagaimana bahasa mereka digunakan bersama.
Kebanyakan individu mengembangkan pemahaman mereka dengan baik tentang kosakata dan struktur bahasanya pada masa kanak-kanak. Misalnya, kebanyakan orang dewasa di Amerika telah memiliki kosakata setidaknya lebihkurang 50.000 kata. Para peneliti telah menunjukkan minat pada proses dimana aspek-aspek bahasa ini berkembang. Melalui banyak penelitian ini, kita akan paham tentang pencapaian utama dalam perkembangan bahasa.
Sebagai contoh, dalam penelitian Patricia Kuhl tentang perkembangan bahasa bayi menunjukkan bahwa jauh sebelum bayi mulai belajar untuk mengucapkan kata-kata, bayi dapat melakukan pemilahan sejumlah suara yang dibunyikan dalam proses mencari bunyi yang bermakna. Kuhl berpendapat bahwa dari lahir hingga usia 6 bulan anak-anak merupakan “ahli linguistik universal” yang mampu membedakan setiap bunyi yang membentuk percakapan manusia. Namun, ketika mulai memasuki usia 6 bulan mereka telah mulai menjadi spesialis dalam suara pembicaraan ibu mereka.
Sebelum memulai untuk mengungkapkan kata-kata pertamanya, biasanya bayi akan berceloteh-pengulangan secara terus menerus atas paduan suara dan huruf, seperti babababa atau dadadada-dimulai pada usia 3-6 bulan dan tentunya juga dipengaruhi oleh kesiapan biologis, tidak hanya penguatan atau kemampuan untuk mendengar. Dalam hal ini, berceloteh mungkin member kesempatan pada bayi untuk melatih mereka cara mengucapkan dan juga membantu mereka mengembangkan kemampuan artikulasi suara yang berbeda-beda.
Sebuah tugas penting dalam perkembangan bahasa bayi adalah untuk menyingkirkan kata-kata individual dari aliran suara yang terus mengalir yang membentuk pembicaraan sehari-hari. Namun, untuk melakukannya bayi harus menemukan batasan antarkata, sebuah tugas yang sangat sulit untuk bayu karena orang dewasa tidak membuat jeda antarkata ketika mereka berbicara. Kendati demikian, para peneliti telah menemukan bahwa bayi mulai dapat mendeteksi batasan-batasan kata pada umur 8 bulan.
Kata-kata pertama seorang anak, pertama kali diucapkan pada usia 10-13 bulan dan biasanya kata-kata yang mereka ucapkan hanya seputar yang ada di sekitar mereka; misalnya dapat meliputi nama orang yang penting (papa), mainan (bola), minuman (susu), bagian tubuh (mata), dsb.
Ketika anak-anak mencapai usia 2 tahun (24 bulan) bayi biasanya mengucapkan pernyataan yang terdiri atas 2 kata, misalnya minum susu. Mereka juga cepat sekali menangkap pentingnya mengekspresikan konsep dan peran yang dimainkan bahasa dalam berkomunikasi dengan orang lain. Untuk mengungkap pernyataan 2 kata ini, anak-anak akan menggantungkannya pada sikap gesture (gerakan) tubuh, intonasi, dan konteks. Walaupun kalimat 2 kata ini menghilangkan banyak bagian dari pembicaraan, tetapi mereka mengungkapkan banyak pesan. Ucapan seperti ini disebut sebagai pembicaraan telegrafik karena ketika orang menggunakan telegraf untuk berkomunikasi, mereka menghilangkan sebanyak mungkin kata yang tidak perlu untuk menyampaikan pesan seringkas dan setepat mungkin.
Tabel Perkembangan Bahasa Awal
Usia


Kemampuan Berbahasa
0-6 bulan


Cooing
Diskriminasi huruf vocal
Celotehan muncul pada usia 6 bulan
6-12 bulan


Celotehan berkembang untuk mencakup suara dari bahasa yang diucapkan
Sikap tubuh yang digunakan untuk berkomunikasi tentang objek
Kata pertama muncul pada usia 10-13 bulan
12-18 bulan


Memahami lebih dari 50 kata sebagai rata-rata
18-24 bulan


Kosakata menungkat hingga mencapai rata-rata 200 kata
Mulai mengombinasikan 2 kata
2 tahun


Kosakata meningkat dengan cepat
Penggunaan bentuk jamak dengan cepat
Penggunaan struktur bahasa untuk masa lalu
Penggunaan kata depan
3-4 tahun


Rata-rata panjangnya ucapan 3-4 morfem dalam sebuah kalimat
Penggunaan kalimat “ya” dan “tidak”, pertanyaan “apa”, “siapa”, “kapan”, dan “kenapa”
Penggunaan kalimat perintah
Kesadaran yang meningkat terhadap pragmatis
5-6 tahun


Kosakata mencapai rata-rata 10.000 kata
Koordinasi kalimat sederhana
6-8 tahun


Kosakata terus meningkat
Keterampilan pembicaraan terus meningkat
Penggunaan keterampilan sintaksis terus meningkat
9-11 tahun


Pendefinisian kata menurut sinonim
Strategi pembicaraan terus meningkat
11-14 tahun


Kosakata menungkat pada tambahan kata-kata yang lebih abstrak
Memahami bentuk tata bahasa yang lebih rumit
Memahami metafora dan kalimat satir
Peningkatan pemahaman fungsi sebuah kata dalam sebuah kalimat
15-20 tahun


Memahami hasil karya tulis



V. Bahasa dan Berpikir : Hipotesis Whorfian

Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak yang memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol abstrak. Dengan adanya transformasi ini, maka manusia dapat berpikir mengenai sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya (Surya Sumantri, 1998).

Hipotesis Whorf lazim disebut teori relativitas bahasa. Edward Sapir (1884-1939) adalah seorang linguis Amerika yang sangat memahami konsep-konsep linguistik Eropa sedangkan Benjamin Lee Whorf (1897-1941) adalah gurunya. Mereka banyak mempelajari bahasa-bahasa orang Indian.
Hipotesis ini sangatlah kontroversial dengan pendapat sebagian ahli. Menurut hipotesis Sapir-Whorf/ teori relativias linguistic menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas yang melukiskan realitas pikiran, pengalaman batin dan kebutuhan si pemakainya. Jadi bahasa bukan hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menentukan cara dan jalan pikiran manusia; oleh karena itu, mempengaruhi pula tindak lakunya. Dengan kata lain, suatu bangsa yang berbeda bahasanya dari bangsa lain, akan mempunyai corak budaya dan jalan pikiran yang berbeda pula. Jadi, perbedaan-perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia itu bersumber dari pebedaan bahasa, atau tanpa adanya bahasa, manusia tidak memiliki pikiran sama sekali. Kalau bahasa itu mempengaruhi kebudayaan dan jalan pikiran manusia, maka cirri-ciri yang ada dalam suatu bahasa akan tercermin pada sikap dan budanya penuturnya. Contoh yang paling mendasar adalah kata rice dalam bahasa Inggris, dapat diterjemahkan menjadi tiga kata yang maknanya berbeda dalam bahsa Indonesia yaitu gabah, beras dan nasi. Ini menujukkan bahwa orang Indonesia lebih peduli pada benda ini daripada orang Inggris. .
Bahasa barat (Eropa) memiliki system kala (tenses), maka orang Barat sebagai penutur bahasa memperhatikan dan malah terikat dengan waktu. Mereka melakukan kegiatan selalu terikat dengan waktu. Begitu pun kebiasaan-kebiasaan yang berkenaan dengan tindak tutur selalu terikat dengan waktu. Pada musim panas pukul 21.00 rembulan masih bersinar terang, tetapi anak-anak mereka (karena sudah menjadi kebiasaan) disuruh tidur karena katanya hari sudah malam. Pukul 01.00 (sesudah pukul 24.00) meskipun masih gelap gulita, bila bertemu mereka sudah akan saling menyapa dengan ucapan “selamat pagi” karena katanya hari sudah pagi. Sebaliknya, bagi orang Indonesia karena dalam bahasanya tidak ada sistem kala, maka menjadi tidak memperhatikan akan waktu. Acara yang sudah terjadwalkan waktunya bisa mundur satu atau beberapa jam kemudian. Itulah sebabnya ungkapan “jam karet” hanya ada di Indonesia.
            Hal ini menyebutkan tingkatan-tingkatan dalam bahasa merupakan hal yang menunjukkan keadaan dan situasi social dalam sebuah masyarakat. Ketika kita menggunakan bahasa daerah, sifat bahasa daerah yang berlapis-lapis itu, sadar ataupun tidak memaksa kita untuk memandang orang di hadapan kita dengan kategori tertentu sehingga bahasa daerah dapat dikatakan bersifat feodalistik, tidak egaliter baik dalam penggunaan kata ganti, kata sifat, maupun kata kerja berbeda dengan bahas inggris yang lebih egaliter. Kita menggunakan kata ganti orang pertama I dan kata ganti orang kedua you kepada siapapun, tak peduli apapun jabatan mereka baik dalam situasi formal maupun informal.
Hipotesis Whorf menyatakan perbedaan berfikir disebabkan oleh bahasa ini. Orang Arab melihat realitas secara berbeda dengan orang Jepang, sebab bahasa Arab tidak sesama bahasa Jepang. Whorf menegaskan realitas itu tidaklah terpampang begitu saja di depan kita lalu, lalu kita memberinya nama satu per satu. Yang terjadi sebenarnya menurut Whorf, adalah sebaliknya bahwa kita membuat peta realitas tersebut, yang dilakukan atas dasar bahasa yang kita pakai, bukan atas dasar realitas itu. Umpamanya jenis warna di seluruh dunia ini sama, tetapi mengapa setiap bangsa yang berbeda bahasanya, melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda. Orang Inggris mengenal warna dasar white, red, green, yellow, blue, brown, purple, pink, orange, grey. Penutur bahasa Hunanco di Filipina hanya mengenal 4 warna saja yaitu mabiru (hitam dan warna gelap), melangit (putih dan warna cerah), meramar (kelompok warna merah), malatuy (kuning, hijau muda, dan coklat muda).

Dalam penjelasan diatas secara implisit teori ini menyatakan bahwa:
1.Tanpa bahasa kita tidak dapat berfikir.
2.Bahasa mempengaruhi persepsi.
3.Bahasa mempengaruhi pola berfikir.
Teori relativitas linguistic tidak hanya terikat dalam aspek linguistik akan tetapi mencakup ranah sosiologi, psikologi dan antropologi. 

referensi
  •   King, Laura A. 2010. Psikologi Umum : Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta : Salemba Humanika.

  •    Lahey, Benjamin B. 2005. Psychology : An Introduction (Ninth Edition). New York : McGraw-Hill Companies, Inc.

  •   Solso, Robert. 1979. Cognitive Psychology. Pearson Education,Inc.

  •  Sternberg, Robert J. 2008.Psikologi Kognitif, ed.4. Yogyakarta: Pustaka Belajar.



0 komentar:

Poskan Komentar

 
;