Selasa, 10 April 2012

Teori Kepribadian Eysenk


I.                   Biografi dan Sejarah Hans Eysenck
 
Hans Eysenck lahir di Jerman pada tanggal 4 Maret 1916. Ayahnya adalah seorang aktor dan bercerai dengan ibunya saat dia baru berusia 2 tahun. Eysenck kemudian dirawat oleh neneknya. Dia hidup bersama neneknya sampai usia 18 tahun, ketika nazi mulai berkuasa. Sebagai seorang simpatisan Yahudi, terang saja kehidupannya terancam.
Dia kemudian pindah ke Inggris guna melanjutkan pendidikanya. Dia menerima gelar doktor di bidang psikologi dari University of London tahun 1940. Selama Perang Dunia II, dia bekerja sebagai psikolog di bagian gawat darurat perang.
Keyakinan Eysenck terhadap kebutuhan pengukuran yang akurat menjadikannya melancarkan kritik keras terhadap teori psikoanalisis. Psikoanalisis tidak memberikan pengukuran yang akurat dan reliabel bagi konsep psikologis mereka. Hal ini diyakini Eysenck sebagai kegagalan serius. Dalam menyusun teori sifat, Eysenck mencoba menghindari masalah ini dengan menggunakan pengukuran perbedaan individu yang reliabel. Dia menekankan pada keharusan pengukuran sifat kepribadian yang memadai. Pengukuran itu merupakan keharusan untuk mendapatkan sebuah teori yang dapat diuji dan jika gagal, tidak disetujui. Pengukuran seperti ini juga diperlukan untuk mengidentifikasikan asumsi dasar-dasar biologis dari sifat.
Teori kepribadian Eysenck memiliki komponen biologis dan psikometris yang kuat. Namun ia yakin kalau kecanggihan psikometris saja tidak cukup untuk mengukur struktur kepribadian manusia dan bahwa dimensi kepribadian yang melewati analisis factor bersifat steril dan tak bermakna kecuali mereka memiliki eksistensi biologis.
Inti pandangan Eysenck dalam psikologi dapat dicari sumbernya pada keyakinannya bahwa pengukuran adalah fundamental dalam segala kemajuan ilmiah, dan bahwa lapangan psikologi sebelumnya orang belum pasti tentang “hal” apa yang sebenarnya diukur. Eysenck yakin bahwa taksonomi atau klasifikasi tingkah laku adalah langkah pertama yang menentukan dan bahwa analisis factor adalah alat yang paling memadai untuk mengejar tujuan ini.
II.                Definisi Kepribadian
Menurut Eysenck kepribadian adalah keseluruhan pola tingkahlaku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkahlaku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkahlaku; sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament), sektor somatik (constitution).
III.             Struktur Kepribadian
Eysenck berpendapat bahwa kebanyakan ahli-ahli teori kepribadian terlalu banyak mengemukakan variabel-variabel kompleks dan tidak jelas. Pendapat ini dikombinasikan dengan anlisisnya, yaitu dengan analisis faktor yang telah menghasilkan sistem kepribadian yang ditandai oleh adanya sejumlah kecil dimensi-dimensi pokok yang didefinisikan dengan teliti dan jelas.
Kepribadian sebagai organisasi tingkah laku dipandang Eysenck memiliki empat tingkatan hirarki, berturut-turut dari hirarki yang tinggi ke hirarki yang rendah :
1.    Hirarki tertinggi : Tipe/Supertraits, kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang luas.                                                              
2.    Hirarki kedua : Trait, kumpulan kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang penting dan permanen.
3.    Hirarki ketiga : Kebiasaan tingkah laku atau berpikir, kumpulan respon spesifik, tingkahlaku/pikiran yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip.
4.    Hirarki terendah : Respon spesifik, tingkahlaku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian.
Jika dilihat dari hubungnnya dengan hirarki di atas, maka dapat disebutkan bahwa antar bagian dari hirarki kepribadian tersebut terjadi interaksi dan saling berpengaruh antar satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh adalah adanya interaksi antara bagian kepribadian yang disebut sebagai specific response dan habitual response. Dimana yang disebut sebagai specific response yakni perilaku atau pikiran individual yang bisa mencirikan sebuah pribadi atau tidak, misal seorang siswa yang menyelesaikan tugas membaca. Sedangkan habitual response dapat dimaknai sebagai respon yang terus berlangsung di bawah kondisi yang sama, misal jika seorang siswa seringkali berusaha sampai suatu tugas selesai dikerjakannya. Habitual response ini dapat berubah-ubah ataupun dapat menetap.
Setelah mengetahui penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk membuat perilaku tertentu atau specific response menjadi sebuah kebiasaan atau habitual response maka perlu adanya pengulangan perilaku tertentu tersebut hingga beberapa kali. Sedangkan jika individu tersebut tidak menginginkan perilaku tertentu itu menjadi sebuah habitual response atau sebuah kebiasaan, maka tidak diperlukan pengulangan perilaku hingga berkali-kali. Dan hubungan serta interaksi juga berlaku pada bagian kepribadian Eysenck yang lain, seperti tipe dan trait.
IV.             Dinamika Kepribadian
Yang disebut dengan dinamika kepribadian adalah mempelajari interaksi antar struktur dari kepribadian tertentu. Dengan menggunakan metode analisis faktor, Eysenck berhasil mengidentifikasi dua dimensi dasar kepribadian yaitu Extraversion dan Neuroticism. Extraversion dan Neuroticism diberikan ruang 2 dimensi untuk menggambarkan perbedaan individu dalam perilaku. Analoginya, Extraversion dan Neuroticism adalah  lintang dan bujur menggambarkan titik di muka bumi. Pada prinsipnya, setiap orang dapat ditempatkan dalam ruang dua duimensionalini tetapi dalam tingkatan yang berbeda. Fitur Eysenck adalah pandangannya yang berhubungan dengan Hipocrates dan Gallen yang mengetengahkan empat tipe kepribadian dasar : Melankonis, Plegmatis, Koleris, dan Sanguis.
·         Tinggi N dan Rendah E = tipe Melancholic
·         Tinggi N dan Tinggi E = tipe Choleric
·         Rendah N dan Tinggi E = tipe Sanguine
·         Rendah N dan Rendah E = tipe apatis




E
Surgent
Carefree
Sensation Seeking
Active
Assertive
Venturesome
Dominant
Lively
Sociable
Extraversion
Konsep Eysenck mengenai ekstraversi mempunyai sembilan sifat dan introversi adalah kebalikan dari trait ekstraversi, yakni: tidak sosial, pendiam, pasif, ragu, banyak fikiran, sedih, penurut, pesimis, penakut.
Eysenck yakin bahwa penyebab utama perbedaan antara ekstraversi dan introversi adalah tingkat keterangsangan korteks (CAL = Cortical Arausal Level), kondisi fisiologis yang sebagian besar bersifat keturunan. CAL adalah gambaran bagaimana korteks mereaksi stimulasi indrawi. CAL tingkat rendah artinya korteks tidak peka, reaksinya lemah. Sebaliknya CAL tinggi, korteks mudah terangsang untuk bereaksi. Orang yang ekstravers CAL-nya rendah, sehingga dia banyak membutuhkan rangsangan indrawi untuk mengaktifkan korteksnya. Sebaliknya introvers CAL-nya tinggi, dia hanya membutuhkan rangsangan sedikit untuk mengaktifkan korteksnya. Jadilah orang yang introvers menarik diri, menghindar dari riuh-rendah situasi disekelilingnya yang dapat membuatnya kelebihan rangsangan.
Extrovert
Introvert
Orang Extrovert lebih memilih berpartisipasi dalam kegiatan bersama, pesta hura-hura, olahraga beregu (sepakbola, arung jeram), minum alkohol dan mengisap mariyuana.
Orang introvert memilih aktivitas yang miskin rangsangan sosial, seperti membaca, olahraga soliter (main ski, atletik), organisasi persaudaraan eksklusif.
Kondisikeramaianmeningkatkanperforma orang-orang Extrovert
Lebih sensitive terhadap rasa sakit dan Cenderunglebihberhati-hati
Ekstravert lebihmemilihliburan yang mengandunginteraksidengan orang lain
introvert kurangmembutuhkansesuatu yang baru
Ekstravertlebihaktifsecaraseksual
Introvert lebih baik di sekolah
Ekstravertmenikmati  humor seksualdanagresif yang eksplisit
sedangkan introvert lebihmemilihbentuk humor intelektualsepertipermainan kata dancanda yang tersamar.
N
Moody
Irrational
Tense
Guilt Feelings
Low Self-esteem
Emotional
Shy
Deppressed
Anxious
Neuroticism
   Seperti ekstraversi-introversi, neurotisisme-stabiliti mempunyai komponen hereditas yang kuat. Eysenck melaporkan beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait neurotik, seperti gangguan kecemasan, histeria, dan obsesif-kompulsif. Juga ada keseragaman antara orang kembar-identik lebih dari kembar-fraternal dalam hal jumlah tingkahlaku antisosial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa, tingkahlaku menyimpang pada anak-anak, homoseksualitas, dan alkoholisme.
Orang yang skor neurotiknya tinggi sering mempunyai kecenderungan reaksi emosional yang berlebihan dan sulit kembali normal sesudah emosinya meningkat. Namun neurotisisme itu bukan neurosis dalam pengertian yang umum. Orang bisa saja mendapat skor neurotisisme yang tinggi tetapi tetap bebas dari simpton gangguan psikologis. Menurut Eysenck, skor neurotisisme mengikuti model stres-diatesis (diathesis-stress model); yakni skor N yang tinggi lebih rentan untuk terdorong mengembangkan gangguan neurotik dibanding skor N yang rendah, ketika menghadapi situasi yang menekan.
Dasar biologis dari neurotisisme adalah kepekaan reaksi sistem syaraf otonom (ANS=Automatic Nervous Reactivity). Orang yang kepekaan ANS-nya tinggi, pada kondisi lingkungan wajar sekalipun sudah merespon secara emosional sehingga mudah mengembangkan gangguan neurotik. Neurotisisme dan ekstraversi dapat digabung dalam bentuk hubungan CAL dan ANS, dan dalam bentuk garis absis ordinat. Kedudukan setiap orang pada bidang dua dimensi itu tergantung kepada tingkat ekstraversi dan neurotisismenya. 

Subyek
Dimensi
CAL
ANS
Simptom
(A)
Introver-Neurotik
Tinggi
Tinggi
Gangguan psikis tingkat pertama
(B)
Ekstraver-Neurotik
Rendah
Tinggi
Gangguan psikis tingkat kedua
(C)
Introver-Stabilita
Tinggi
Rendah
Normal introvers
(D)
Ekstravers-Stabilitas
Rendah
Rendah
Normal ekstravers
Penjelasan Tabel

A adalah orang introvert-neurotik (ekstrim introvers dan ekstrim neurotisisme) atau orang yang memiliki CAL tinggi dan ANS tinggi. Orang itu cenderung memiliki simpton-simpton kecemasan, depresi, fobia, dan obsesif-kompulsif, yang oleh Eysenck disebut mengidap gangguan psikis tingkat pertama (disorders of the first kind).
B adalah orang ekstravers-neurotik atau orang yang memiliki CAL rendah dan ANS tinggi. Orang itu cenderung psikopatik, kriminal dan delingkuen, atau mengidap gangguan psikis tingkat kedua (disorders of the second kind).
C adalah orang normal yang introvers; tenang, berfikir mendalam, dapat dipercaya.
P
Creative
Antisocial
Impulsive
Egocentric
Impersonal
Tough-minded
Unemphatic
Cold
Aggressive
D adalah orang yang normal-ekstravers; riang, responsif, senamg bicara/bergaul.

Psychoticism
Dimensi ketiga, psychoticism, ditambahkan ke model pada akhir tahun 1970, berdasarkan kolaborasi antara Eysenck dan istrinya, Sybil BG Eysenck,  yang adalah editor saat Personality and Individual Differences.
Orang yang skor psikotisisme-nya tinggi memiliki trait agresif, dingin, egosentrik, tak pribadi, impulsif, antisosial, tak empatik, keatif, keras hati. Sebaliknya orang yang skor psikotisismenya rendah memiliki trait merawat/baik hati, hangat, penuh perhaitan, akrab, tenang, sangat sosial,empatik, kooperatif, dan sabar. Seperti pada ekstraversi dan neurotisisme, psikotisisme mempunyai unsur genetik yang besar. Secara keseluruhan tiga dimensi kepribadian itu 75% bersifat herediter, dan hanya 25% yang menjadi fungsi lingkungan. Seperti pada neurotisisme, psikotisisme juga mengikuti model stres-diatesis (diathesis-stress model). Orang yang variabel psikotismenya tinggi tidak harus psikotik, tetapi mereka mempunyai predisposisi untuk mengidap stress dan mengembangkan gangguan psikotik. Pada masa orang hanya mengalami stress yang rendah, skor P yang tinggi mungkin masih bisa berfungsi normal, tetapi ketika mengalami stress yang berat, orang menjadi psikotik yang ketika stress yang berat itu sudah lewat fungsi normal kepribadian sulit untuk diraih kembali.
V.                Proses Terbentuknya Kepribadian
Teori kepribadian Eysenck menekankan peran herediter sebagai faktor penentu dalam perolehan trait ekstraversi, neurotisisme, dan psikotisisme (juga kecerdasan). Hal ini sebagian didasarkan pada bukti hubungan korelasional antara aspek-aspek biologis, seperti CAL (Cortical Arousal Level) dan ANS (Automatic Nervous System Reactivity) dengan dimensi-dimensi kepribadian.
Namun, Eysenck juga berpendapat bahwa semua tingkah laku yang tampak – tingkah laku pada hirarki kebiasaan dan respon spesifik – semuanya (termasuk tingkah laku neurosis) dipelajari dari lingkungan. Eysenck berpendapat inti dari fenomena neurotis adalah reaksi takut yang dipelajari atau terkondisikan. Hal itu terjadi manakala satu atau dua stimulus netral diikuti dengan perasaan sakit atau nyeri fisik maupun psikologis. Kalau traumanya sangat keras dan mengenai seseorang yang faktor hereditasnya rentan menjadi neurosis, maka bisa jadi cukup satu peristiwa traumatis untuk membuat orang itu mengembangkan reaksi kecemasan dengan kekuatan yang besar dan sukar berubah (diatesis stress model).
Sekali conditioning ketakutan atau kecemasan terjadi, pemicunya akan berkembang bukan hanya terbatas pada objek atau peristiwa asli, tetapi ketakutan atau kecemasan itu juga dipicu oleh stimulus lain yang mirip dengan stimulus asli atau stimulus yang dianggap berkaitan dengan stimulus asli. Mekanisme perluasan stimulus ini mengikuti Prinsip Generalisasi Stimulus yang banyak dibahas dalam paradigma behaviourisme. Setiap kali orang menghadapi stimulus yang membuatnya merespon dalam bentuk usaha menghindar atau mengurangi kecemasan, menurut Eysenck, orang itu menjadi terkondisi perasaan takut atau cemasnya dengan stimuli yang baru saja dihadapinya. Jadi, kecenderungan orang untuk merespon dengan tingkah laku neurotik semakin lama semakin meluas, sehingga orang itu menjadi mereaksi dengan ketakutan stimuli yang hanya sedikit mirip atau bahkan tidak mirip sama sekali dengan objek atau situasi menakutkan yang asli.
Menurut Eysenck, stimulus baru begitu saja dapat diikatkan dengan stimulus asli, sehingga orang mungkin mengembangkan cara merespon stimuli yang terjadi serta merta akibat adanya stimuli itu, tanpa tujuan fungsional. Eysenck menolak analisis psikodinamik yang memandang tingkah laku neurotik dikembangkan untuk tujuan mengurangi kecemasan. Menurutnya, tingkah laku neurotik sering dikembangkan tanpa alasan yang jelas, sering menjadi kontraproduktif, semakin meningkatkan kecemasan dan bukan menguranginya.
Eysenck tidak menutupi kemungkinan adanya pengaruh lingkungan pada kepribadian, seperti interaksi keluarga di masa kecil, tetapi dia percaya pengaruhnya terhadap kepribadian adalah terbatas.
VI.             Psikopatologi

Teori kepribadian Eysenck berkaitan erat dengan teori psikologi dan perubahanperilaku. Jenis gejala atau gangguan psikologis yang cenderung berkembang adalah terkait dengan karakteristik kepribadian dasar dan prinsip-prinsip dari fungsi sistem saraf. Menurut Eysenck, Orang extravert biasanya memiliki level rangsangan cortical (CAL=CorticalArousal Level) yang tinggi , sedangkan introvert biasanya memiliki  level rangsangan cortical (CAL) yang lebih rendah. Orang yang mengalami gangguan fobia dan obsesif-kompulsif biasanya adalah orang introvert, sementara orang yang mengalami gangguan keseimbagan mental (misalnya, paralisis histerikal) atau gangguan ingatan (misalnya amnesia) biasanya adalah orang ekstravert.
Eysenck juga menemukan hubungan antara dimensi normality-neurocitism dengan autonomic nervous system reactivity. Orangdenganreaktivitassistemsaraf otonomtinggicenderungmengembangkangangguanneurotik. Orang yang skor neurotiknya tinggi sering mempunyai kecenderungan reaksi emosional yang berlebihan dan sulit kembali normal sesudah emosinya meningkat. Sebagian besar pasien neurotik cenderung memiliki neurotisisme yang tinggi dan skor extraversion yang rendah. Sebaliknya, penjahat dan orang-orang antisosial cenderung memiliki skor neurotisisme, extravertion dan psychoticism yang tinggi, individu-individu seperti itu menunjukkan pembelajaran yang lemah mengenai norma- norma sosial.
VII.          Isu Penting Dalam Kepribadian

Aspek penting dari banyaknya teori kepribadian dapat digambarkan dari sifat alamiah manusia diformulasikan  dengan masing-masing ahli teori. Masing-masing ahli teori mempunyai konsepsi alamiah manusia yang dituangkan pada beberapa pertanyaan dasar yang ada di bawah ini, antara lain:
1.      Keinginan bebas (Free Will) vs Determinasi?

Apakah kita langsung sadar dengan segala tindakan kita,  atau mereka (tindakan kita) diatur oleh kekuatan lain?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sudah lama dan sampai sekarang pertanyaan ini masih belum pasti jawabannya. Tetapi Hans Eysenck lebih menekankan pada determinasi biologis, karena menurut Eysenck, faktor kepribadian seperti Psikotisme (fungsi supergo terhadap yang lain), Neurotisme (kecemasan, histeria, dan lain-lain), Ekstroversi (periang, lebih sensitif terhadap stimulus positif, dan lain-lain) semuanya mempunyai kekuatan determinasi biologis. Dia juga memperkirakan bahwa sekitar ¾  variasi dari 3 dimensi kepribadian dapat dihitung degan hereditas dan sekitar 1/4 dengan faktor lingkungan.  (pages 415, theories of personality, Jess Feist & Gregory J.Feist, 2009, McGrawHill, New York.)

2.       Alamiah (herediter/nature) vs Lingkungan (Nurture)?

Apakah kita lebih dipengaruhi oleh herediter (nature) atau lingkungan kita (nurture)?
Sudahlah jelas bahwa menurut Eysenck kepribadian manusai lebih banyak dipengaruhi oleh hereditas (walaupun ¼ bagian dipengaruhi oleh lingkungan). Hal ini dijelaskan dengan idenya, yaitu orang yang ekstrovert relatif memiliki tingkat aktivitas otak yang rendah, oleh sebab itu mereka mencari stimulus eksternal. Mereka ingin membuat segala hal menjadi lebih menarik. Di sisi lain, orang introvert dikatakan memiliki tingkat  aktivitas sistem saraf pusat yang tlebih tinggi, sehingga meraka cenderung menghindari lingkungan sosial yang terlalu banyak memberikan stimulus. Lebih khusus, Eysenck menitik beratkan bagian otak yang dikenal sebagai Ascending Reticular Activating System (ARAS), yaitu sistem yang mentransmisikan pesan ke sistem limbik dan hipotalamus serta memicu pelepasan hormon dan neurotransmiter, sehingga memfasilitasi fungsi seperti belajar, memori, dan terjaga (Eysenck, 1967). (hal. 176, Howard S. Friedman & Mariam W.Schustack, Ed 3 jilid 1, penerbit erlangga, Jakarta, 2008)

3.      Masa Lalu (Past) vs Masa Sekarang (present)? 

Apakah kepribadian kita ditetapkan oleh peristiwa awal dalam kehidupan kita atau dapat dibentuk oleh pengalaman pada masa dewasa?
Konsep trait kepribadian lebih kepada bentuk yang konsisten dari cara individu berprilaku, merasa dan berpikir. Yang artinya trait yang kita miliki menggambarkan sebuah keteraturan dalam tingkah laku seseorang. Dalam peneleitian telah menunjukkan bahwa trait dan dimensi Eysenck mengusulkan masih stabil sepanjang rentang kehidupan dari permulaan masa anak-anak sampai akhir dewasa, meskipun ada perbedaan pengalaman sosial dan lingkungan yang berbeda pula. Jadi, cukuplah jelas bahwa trait kepribadian menurut Eysenck ditetapkan melalui peristiwa awal kehidupan kita, walaupun 20%-nya ditentukan oleh pengaruh sosial dan lingkungan. (pages 290, D.P. Schulzt & S.E. Schulzt, 2005, ed 8, thomson learning Wadsworth, USA)

4.      Keunikan (Uniqueness) vs Kesamaan (Universality)?

Apakah kepribadian masing-masing manusia adalah unik, atau ada kesamaan yang luas dari bentuk kepribadian beberapa orang yang sesuai?

Sudah pasti ada kesamaan yang luas dari bentuk kepribadian dari beberapa wilayah di dunai (orang yang sama atau sesuai). Hal ini berkaitan dengan teori trait Eysenck, yang menyatakan bahwa hampir 80% trait kepribadian manusai dipengaruhi oleh pewarisan sifat atau herediter. Penelitian yang mendukung hal ini ada 3 urutan fakta, yaitu: pertama peneliti (McCare & Allik, 2002) telah menemukan adanya faktor atau trait yang hampir indentik diantara orang dibelahan dunia ini, tidak hanya di Eropa Barat dan Amerika Utara, tetapi juga di Uganda, Nigeria, Japan, China, Rusia, dan negara lainnya. Kedua, fakta (McCare & Costa, 2003) memberi kesan bahwa setiap individu cendrung mempertahankan posisi mereka sepanjang waktu dalam berbagai dimensi kepribadian. Ketiga, Studi tentang anak kembar (Eysenck, 1990), menunjukkan indeks yang tinggi antara kembar identik (khusunya monozigot), dari pada antara sesama jenis kelamin yang merasa kembar yang timbul karena selalu bersama. .  (pages 415, theories of personality, Jess Feist & Gregory J.Feist, 2009, McGrawHill, New York.)

5.      Keseimbangan (Equilibrium) vs Pertumbuhan (Growth)?

Apakah kita dengan mudah terdorong untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis atau dalam keadaan seimbang atau apakah dorongan tumbuh dan berkembang membentuk perilaku kita?

Menurut Eysenck, Cukuplah jelas bahwa akan terjadi keseimbangan fisiologis dalam pembentukan perilaku, karena trait ditentukan secara herediter dan merupakan pembagian tugas kepribadian yang semi-permanent. Artinya trait yang diturunkan secara herediter ini, berada pada bagian tengah/semi dalam organisasi perilaku menurut Eyseck. Trait pada level prilaku digali dari analisis faktor dari habit-respon level, dan hanya akan menjadi habitual respon jika secara matematis digali sampai analisi faktor respon spesifik. Contohnya, orang yang tekun (menurut Eysenck salah satu trait dari supertrait introvert), akan mempunyai habit yang akan menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan akan tetap bekerja dengan usaha keras yang lain sampai mereka selesai. Kemudian, Eysenck menekankan bahwa, trait adalah terminologi dari interkorelasi yang signifikan antara perbedaan kebiasaan perilaku (habitual behaviors) Eysenck, 1990). Kesimpulannya, tidaklah mungkin jika kita pada usia 25 tahun adalah orang yang introvert akan menjadi orang yang ekstrovert pada usia 60 tahun (terjadi perubahan herediter atau fisiologis), karena pada umur 25 tahun orang yang mempunyai supertrait yang introvert akan mempunyai trait ketekunan, kebiasaan bekerja keras dan akan terus dipertahankan sampai ia dewasa akhir (walaupun ada faktor sosial dan lingkungan yang mungkin sangat terbatas). (pages 408-409, theories of personality, Jess Feist & Gregory J.Feist, 2009, McGrawHill, New York.)


6.      Keputusasaan (Pesimism) vs Harapan Baik (Optimism)

Apakah dasarnya kita baik atau jahat?

Pada dasarnya kita adalah baik, sesuai dengan supertrait Psikotisme vs Fungsi Superego. Eysenck juga setuju dengan teori Abraham Maslow yang mengemukakan bahawa kesehatan mental berawal dari aktualisasi diri (score P yang rendah) sampai schizoprenia dan psikosis (score P yang tinggi). (page.411, theories of personality, Jess Feist & Gregory J.Feist, 2009, McGrawHill, New York.)

VIII.       Interfrensi
Terlepas dari komponen genetik yang kuat dalam pengembangan dan pemeliharaan gangguan tersebut, Eysenck mengklaim bahwa tidak perlu menjadi pesimis mengenai potensi untuk pengobatan.“Jika faktor keturunan sangat penting, maka jelas modifikasi perilaku apapun harus menjadi mustahil. Ini adalah interpretasi yang salah”. Apa yang ditentukan secara genetis adalah kecenderungan bagi seseorang untuk bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Dengan demikian, sangat mungkin bagi seseorang untuk menghindari situasi traumatis tertentu, untuk melupakan tanggapan ketakutan tertentu yang dipelajari, atau untuk belajar memperoleh kode perilaku sosial tertentu. Dengan demikian, sambil menekankan pentingnya faktor-faktor genetik, Eysenck juga adalah pendukung utama dari terapi perilaku, atau pengobatan sistematis perilaku abnormal sesuai dengan prinsip- prinsip teori belajar.
Jika tingkah laku itu diperoleh dari belajar, logikanya tingkah laku itu juga bisa dihilangkan dengan belajar. Eysenck memilih model terapi tingkah laku atau metode menangani tekanan psikologis yang dipusatkan pada pengubahan tingkah laku salahsuai alih-alih mengembangkan pemahaman mendalam terhadap konflik di dalam jiwa. Jadi, dapat dilihat bahwa Eysenck sangat menentang Freud, dan memandang terapi psikoanalitik dan psikodinamik biasanya tidak efektif untuk menangani simptom neurotik.
IX.             Assessment
Diantara instrumen-instrumen yang pernah dikembangkannya, ada empat inventori yang pengaruhnya luas, dalam arti dipakai oleh banyak pakar untuk melakukan penelitian atau untuk memahami klien, maupun dalam arti menjadi ide untuk mengembangkan tes yang senada.
·         Meudley Personality Inventory (MPI), mengukur E dan N dan korelasi antara keduanya.
·         Eysenck Personality Inventory (EPI), mengukur E dan N secara independen.
·         Eysenck Personality Questionnair (EPQ), mengukur E,N, P (Merupakan revisi dari EPI, tetapi EPI yang hanya mengukur E dan N masih tetap dipublikasikan)
·         Eysenck Personality Questionnair-Revised (EPQ-R) revisi dari EPQ.


referensi

  • Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
  • PERVIN, L. A. John Wiley & Sons .Personality: teory and research, Inc. 12-05-2005
  • Schultz, Duane dan Schultz, Sydney Allen. 2005. The Theories of Personality, Thomson Learning : USA

2 komentar:

Arifah Raka Tasya Siregar mengatakan...

Terima Kasih Rika Postingannya sangat membantu. :)

dwririzan agustiawan mengatakan...

thank, untuk postingnya

Poskan Komentar

 
;