Kamis, 26 Maret 2015
Revisi Konsep Pembelajaran Orang Dewasa Dengan Model Pembelajaran Diskusi
(Berbagi Informasi tentang SEKSUALITAS)
Oleh
Kelompok 5:
Rizka Aini Hasibuan 10-087 http://10087rah.blogspot.com/
M.Habibi Almy        11-004 http://bibiealmy.blogspot.com/
Etika Mandasari      11-014 http://11014ems.blogspot.com/
Rika Damayanti       11-018 http://11018rika.blogspot.com/
Rizky Hasanah         11-029 http://11029rh.blogspot.com/

1.      Pengertian Diskusi
Menurut Muhibin Syah (dalam Faqih, 2013) menjelaskan bahwa metode diskusi merupakan suatu metode dalam proses mengajar yang berhubungan dengan pemecahan masalah atau disebut dengan problem solving. Diskusi juga merupakan percakapan yang bersifat ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung didalam suatu percakapan kelompok untuk saling bertukar pendapat tentang suatu maslah atau bersama-sama mencari pemecahan masalah untuk mendapatkan jawaban atas suatu masalah. Sedangkan (Wikipedia, 2015) menyatakan bahwa diskusi merupakan sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut. Adapun unsur-unsur diskusi adalah:
a.       Materi
b.      Manusia, sebagai pelaksana. Terdiri dari moderator, notulis, peserta dan pemakalah/penyaji
c.       Perlengkapan
2.      Macam-Macam Diskusi
Adapun macam-macam diskusi menurut tokoh (Suryobroto, 1996) adalah:
a.       Seminar
Pertemuan para pakar yang berusaha mendapatkan kata sepakat mengenai suatu hal.
b.      Sarasehan/simposium
Pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat (prasaran) para ahli mengenai suatu hal/masalah dalam bidang tertentu.
c.       Muktamar
Pertemuan para wakil organisasi mengambil keputusan mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.
d.      Konferensi
Pertemuan untuk berdiskusi mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.
e.       Diskusi panel
Diskusi yang dilangsungkan oleh panelis (peserta diskusi panel) dan disaksikan/dihadiri oleh beberapa pendengar, serta diatur oleh seorang moderator.
f.       Diskusi kelompok
Penyelesaian masalah dengan melibatkan kelompok-kelompok kecil.
3.      Manfaat Diskusi
Menurut (Wikipedia, 2015) manfaat diskusi adalah:
a. Berlatih bekerja sama mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan diskusi (semua individu harus ikut aktif dalam diskusi).
b. Berlatih bersabar mendengarkan pendapat pihak lain yang berbeda dengan pendapatnya sendiri, dan bahkan bertentangan.
c. Berlatih menyusun argumentasi yang rasional dan faktual, sekaligus berlatih memberikan memberikan masukan untuk memperbaiki kelemahan pendapat dari orang lain.
d. Perilaku-perilaku yang diharapkan berubah antara lain:
1)   Terbuka terhadap perbedaan pendapat
2)   Disiplin mengikuti tata tertib diskusi
3)   Menghormati pihak-pihak yang berbeda pendapat
  4.  Tujuan Diskusi
Hisyam Zaini, dkk (dalam Agustin, 2009) dalam bukunya Strategi Pembelajaran Aktif menyatakan bahwa “Diskusi bertujuan untuk merangsang intelegensi kita untuk menemukan setiap jawaban dari masalah yang dimunculkan, dengan diskusi kecerdasan seseorang akan muncul dengan lebih mudah dalam kesederhanaan yang memukau”. 
Sedangkan menurut tokoh lain, seperti Moedjiono dan Moh. Dimyati (dalam Agustin, 2009) menyatakan bahwa tujuan diskusi adalah:
a.Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa.
b.Mengembangkan sikap positif terhadap sekolah, para guru, dan bidang studi yang dipelajari.
c.Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan konsep diri (self-concepts) yang lebih positif.
d.Meningkatkan keberhasilan siswa dalam menemukan pendapat.
e.Mengembangkan sikap terhadap isu-isu kontroversial.
5.  Jenis Diskusi
Jenis metode diskusi yang digunakan ialah brainstorming, dalam brainstorming kelompok  menyumbangkan ide-ide baru tanpa dinilai langsung. Setiap anggota dari kelompok mengeluarkan pendapatnya. Hasil belajar yang diharapkan ialah agar anggota kelompok belajar menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan ide-ide yang ditemukannya yang dianggap benar.
Metode diskusi merupakan suatu metode pengajaran yang mana fasilitator memberi suatu persoalan atau masalah kepada peserta, dan para peserta diskusi diberi kesempatan secara bersama-sama untuk memecahkan masalah itu dengan teman-temanya. Dalam diskusi peserta dapat mengemukan pendapat, menyangkal pendapat orang lain, mengajukan usul-usul, dan mengajukan saran-saran dalam rangka pemecahan masalah yang ditinjau dari berbagai pengalaman. Brainstroming dapat memberi informasi, menambah wawasan, belajar dari pengalaman orang lain. Selain itu menciptakan kesetaraan dan melibatkan seluruh peserta.
6.  Topik atau Isu
Sarwono (2007) menyatakan bahwa perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada perkembangan jiwa remaja yang terbesar pengaruhnya adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh sehingga menyebabkan mudahnya aktivitas seksual (terutama dikalangan remaja) dilanjutkan dengan hubungan seks.
Rasa ingin tahu terhadap masalah seksual pada remaja sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Pada masa remaja, informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan supaya remaja tidak mendapatkan informasi yang salah dari sumber-sumber yang tidak jelas.
Selama ini, jika kita berbicara mengenai seks, maka yang terbersit dalam benak sebagian besar orang adalah hubungan seks. Padahal, seks itu artinya jenis kelamin yang membedakan pria dan wanita secara biologis. Orang pasti akan menganggap tabu jika membicarakan tentang seks, dianggapnya sex education akan mendorong remaja untuk berhubungan seks. Sebagian besar masyarakat masih berpandangan stereotip dengan pendidikan seks (sex education) seolah sebagai suatu hal yang vulgar. Pendidikan seks adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar. Informasi itu meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan.
Pendidikan seks atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi atau yang lebih trend-nya “sex education” sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah biasnya sex education maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja.
Ada beberapa hal mengenai Pentingnya Pendidikan Seks bagi Remaja, diantaranya yaitu:
a.Untuk mengetahui informasi seksual bagi remaja
b.Memiliki kesadaran akan pentingnya memahami masalah seksualitas
c.Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya
d.Memahami masalah-masalah seksualitas remaja
e.Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah seksualitas
Selain itu ada dua faktor mengapa pendidikan seks (sex education) sangat penting bagi remaja. Faktor pertama adalah di mana anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan sex education, sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adahal hal yang tabu. Sehingga dari ketidak fahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggung jawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya.
Faktor kedua, dari ketidakfahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di lingkungan sosial masyarakat, hal ini ditawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain, VCD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakfahaman remaja tentang sex education ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV dan sebagainya.
Ada beberapa pendapat yang bilang, ”sex education” memang pantas dimasukkan dalam kurikulum di sekolah menengah, apalagi siswa pada ini adalah masa pubertas. Pendidikan SeksSex education” sangat perlu sekali untuk mengantisipasi, mengetahui atau mencegah kegiatan seks bebas dan mampu menghindari dampak-dampak negatif lainnya.
7.  Alat Bantu
Camera digital
Camera digital, digunakan untuk merekam seluruh kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan.
Slide show
Tampilan slide show, digunakan ketika mempresentasikan hasil diskusi yang telah dilaksanakan sebelumnya
Proyektor
Proyektor, digunakan sebagai alat bantu untuk menampilkan tampilan slide di dalam kelas ketika mempresentasikan hasil diskusi yang telah dilaksanakan. 
  
8.Subjek dan Waktu Pembelajaran
Subjek
Subjek dari kegiatan diskusi ini adalah anggota-anggota dari ARMI (Ariliensi Relawan Muda Indonesia) yang berkisar dari 10-20 orang.
Lokasi
Kegiatan dilakukan di gedung PKPA. Jl. Setia Budi No.
Hari/tanggal
Jumat, 27 Maret 2015
Pukul
Jam 15.00-16.30
Biaya
RP. 150.000









9.  Pembagian Tugas
Fadru Haris
Pemateri (Anggota CMR)
M. Habibi Almi
Mempersiapkan Alat
Rizka Aini Hasibuan
Konsumsi
Rika Damayanti
Merekam Jalannya Diskusi
Rizki Hasanah
Notulen
Etika Mandasari
Moderator, Ice Breaking
10. Rincian Biaya
Nama Barang
Harga
Total
Konsumsi :
Makan Siang Fasilitator
Snack
Minuman
Rp. 20.000
Rp. 40.000
Rp. 20.000
Rp.  80.000
Pemateri
Rp. 50.000
Rp.  50.000
Akomodasi
Rp. 20.000
Rp.  20.000
Total Keseluruhan
Rp. 150.000


DAFTAR PUSTAKA 
Agustin. W. Sari. 2009. Studi Komparasi Antara Metode Diskusi Dengan Metode Role Playing Ditinjau Dari Kreativetas Siswa Pada Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi.       ( http://eprints.uns.ac.id). Diakses pada 16 maret 2015.
B. Suryobroto. 1996. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta:Rineka Cipta.
Faqih, Abdul. Penerapan Metode Diskusi Kelompok Terarah Dalam Upaya Meningkatkan Maharah Qira’ah Bagi Siswa Kelas VIII B MtsN Sumbergiri Ponjong Gunung Kidul Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. Skripsi. Fakultas Ilmu Multabbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013. Diakses pada tanggal 16 maret 2015.
Haryanto. 2011. Pentingnya Pendidikan Seks (Sex Education). Artikel Online. Diakses pada 24 Maret 2015. Dapat dilihat melalui http://belajarpsikologi.com/pentingnya-pendidikan-seks-sex-education/
Naharuddin. 2013. Pentingnya Pendidikan Seks Bagi Remaja Di Dunia Pendidikan. Artikel Online. Diakses pada 24 Maret 2015. Dapat dilihat melalui http://asosiasipenulisislam-sby.blogspot.com/2012/12/pentingnya-pengetahuan-seks-bagi-remaja.html
Wikipedia. 2015. (http://id.wikipedia.org/wiki/Diskusi.) Diakses pada tanggal 16 maret 2015.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;