Jumat, 16 Maret 2012

Inteligensi Menurut Alfred Binet

Pengertan Inteligensi


Inteligensi adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari.
IQ adalah usia mental(MA) seseorang dibagi dengan usia kronologis(CA),dikalikan 100.
 Menurut goleman, emotional intelligence terdiri dari empat area:
  • developing emotional awareness-seperti kemampuan untuk memisahkan perasaaan dari tindakan.
  • managing emotions-seperti mampu untuk mengendalikan amarah.
  • reading emotions-seperti memahami perspektif orang lain.
  • handing relationships-seperti kemampuan untuk memecahkan problem hubungan.
akan tetapi, tes IQ hanya memprediksikan seperempat dari variasi dalam kesuksesan kerja, dengan sebagian besar variasi dinisbahkan pada faktor lain seperti motivasi dan pendidikan. lebih lanjut, korelasi antara IQ dan prestasi akan berkurang jika orang makin lama dalam bekerja, mungkin karena mereka semakin banyak mendapat pengalaman kerja dan karenanya kinerjanya menjadi lebih baik.

Pengertian intelligensi menurut alfred binet (1857-1911)



Alfred Binet dikenal sebagai seorang psikolog dan juga pengacara (ahli hukum). Hasil karya terbesar dari Alfred Binet di bidang psikologi adalah apa yang sekarang ini dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Sebagai anggota komisi investigasi masalah-masalah pendidikan di Perancis, Alfred Binet mengembangkan sebuah test untuk mengukur usia mental (the mental age atau MA) anak-anak yang akan masuk sekolah. Usia mental tersebut merujuk pada kemampuan mental anak pada saat ditest dibandingkan pada anak-anak lain di usia yang berbeda. Dengan kata lain, jika seorang anak dapat menyelesaikan suatu test atau memberikan respons secara tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diperuntukan bagi anak berusia 8 (delapan) maka ia dikatakan telah memiliki usia mental 8 (delapan) tahun.
Test yang dikembangkan oleh Binet merupakan test intelegensi yang pertama, meskipun kemudian konsep usia mental mengalami revisi sebanyak dua kali sebelum dijadikan dasar dalam test IQ. Pada tahun 1914, tiga tahun setelah Binet wafat, seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan bahwa dengan membagi usia mental anak dengan usia kronological (Chronological Age atau CA), maka akan lebih memudahkan untuk memahami apa yang dimaksud "Intelligence Quotient". Rumus ini kemudian direvisi oleh Lewis Terman, dari Stanford University, yang mengembangkan test untuk orang-orang Amerika. Lewis mengalikan formula yang dikembangkan Stern dengan angka 100. Perhitungan statistik inilah yang kemudian menjadi definisi atau rumus untuk menentukan Intelligensi seseorang: IQ=MA/CA*100. Test IQ inilah yang dikemudian hari dinamai  Stanford-Binet Intelligence Test yang masih sangat populer sampai dengan hari ini.


0 komentar:

Poskan Komentar

 
;