Selasa, 27 Maret 2012

Perkembangan Psikososial


A.Definisi Perkembangan Psikososial
Apa itu perkembangan psikososial?
Perkembangan psikososial adalah  perkembangan yang membahas tentang perkembangan kepribadian manusia khususnya yang berkaitan dengan emosi, motivasi dan perkembangan kepribadian.




B.Teori Perkembangan Psikososial Pada Masa Kanak-Kanak Pertengahan

1.Peers
Memasuki tahun-tahun untuk sekolah dasar, adalah perubahan yang paling penting  pada perubahan anak. Penelitian memperkirakan persentasi dari menghabiskan waktu dalam interaksi sosial dengan  sesama meningkat sekitar 10 persen pada  tahun kedua dan 30 persen pada masa pertengahan dan akhir  kanak-kanak( Rubin, Bukowski, & Parker, 2006).
Awalnya, hari-hari biasa di sekolah dasar terhitung sekitar 300 episode dengan sesamanya. Anak bepindah melalui masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, ukuran dari group mereka meningkat, dan interaksi sesama menjadi kurang erat saat dewasa.
Dalam suatu investigasi , diketahui  anak-anak berinteraksi dengan teman-teman sebaya 10%dari waktu siang mereka pada usia 2 tahun, 20% antara usia 7 dan 11 tahun. Episode bersama teman-teman sebaya berjumlah 299 per hari sekolah.
 Kebanyakan interaksi teman sebaya terjadi diluar rumah (walaupun dekat dengan rumah), lebih sering terjadi di tempat-tempat pribadi daripada di temapat umum, dan lebih sering terjadi diantara anak-anak yang sama jenis kelamin daripada diantara anak-anak  yang berbeda jenis kelamin.
2.Peer Status
Mana anak yang akan menjadi populer dengan anak sesamanya dan mana yang tidak disukai ? ilmu perkembangan mengalamatkan dan memeriksa pertanyaan yang mirip dari sociometric status, sebuah istilah menggambarkan tingkat untuk mana anak yang disukai atau yang tidak disukai oleh teman sebayanya.
Jenis  sosimetrc status dinilai berdasarkan anak-anak diminta untuk menilai  berapa banyak teman sekelas mereka yang menyukai atau yang tidak menyukai mereka. Atau mungkin dinilai berdasarkan anak  diminta untuk menunjuk mana anak yang paling mereka sukai dan yang kurang mereka sukai.

Ilmu perkembangan mengemukakan lima peer status:
  • Popular Children sering dikelompokkan sebagai sahabat, dan jarang tidak disukai dalam rekan sebaya mereka.
  • Average Children menerima jumlah rata-rata dari kedua nominasi positif dan negatif  dari teman sebaya mereka.
  •  Neglected Children kurang dikelompokkan sebagai sahabat tetapi bukan tidak disukai oleh teman sebaya  mereka.
  • ·Rejected Children jarang dikelompokkan sebagai seorang sahabat dan sering tidak disukai oleh teman sebaya mereka.
  •  Controversial Children sering dikelompokkan mrnjadi dua sebagai  sahabat dan menjadi yang paling tidak disukai.
Anak yang populer memiliki kemampuan sosial yang membuat mereka disukai. Mereka memberi  penguatan, pendengar yang baik, mempertahankan komunikasi yang saling terbuka dengan sebaya, menyenangkan, mengontrol emosi negatif mereka, bertindak seperti mereka, menunjukkan antusiasme dan perhatian pada yang lainya, dan self-confident tanpa menjadi sombong.
Anak yang ditolak sering memiliki masalah adaptasi yang serius dibandingkan anak yang kurang perhatian . suatu study menemukan bahwa di TK anak-anak yang ditolak teman sebayanya kurang berpartisipasi dalam kelas , lebih berekspresi menghindari sekolah dan lebih menyendiri dibandingkan anak yang diterima teman sebaya.

John coie  menyediakan tiga alasan mengapa anak agresif yang ditolak mempunyai masalah dalam  hubungan sosial:
  •     Pertama, Penolakan  anak laki-laki yang agresif adalah lebih impulsif dan memiliki masalah mempertahankan perhatian. Sebagai hasilnya, mereka lebih cenderung untuk mengganggu kegiatan yang sedang berlangsung di kelas dan dalam bermain kelompok.

  •     Kedua, anak laki-laki yang agresif biasanya emosionalnya lebih reaktif. Dengan mudahnya mereka menimbulkan kemarahan dan mungkin sulit untuk meredakan kemarahanya tersebut. Karena itu, mereka cenderung cepat marah kepada teman sebaya dan menyerang mereka secara verbal dan fisik.


  •      Ketiga, anak yang ditolak memilki sedikit kemampuan sosialnya dalam berteman dan menjaga hubungan positif teman sebayanya.
Bagaimana supaya anak yang ditolak itu lebih efektif dengan teman sebayanya? Tujuan program-program pelatihan bagi anak-anak yang diabaikan haruslah untuk menolong mereka menarik perhatian teman-teman sebaya mereka dengan cara-cara yang positif dan mempertahankan perhatian dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan , mendengarkan dengan cara yang hangat dan bersahabat, dan bila berbicara  mengenai diri sendiri mereka sendiri, bicarakanlah hal-hal yang menarik minat teman sebaya . mereka juga diajarkan untuk memasuki kelompok secara lebih efektif.

3.Social Cognition

Seorang anak laki-laki tanpa sengaja menyenggol dan menjatuhkan minuman ringan seorang teman sebaya. Teman sebaya itu salah menginterpretasikan senggolan tersebut sebagai permusuhan, yang membuatnya membalas secara agresif terhadap anak laki-laki itu. Bila senggolan seperti ini seering terjadi, maka teman-teman sebaya lain akan menganggap anak laki-laki itu agresif karena sering berprilaku yang tidak tepat.
Kenneth Dogde (1983) berpendapat bahwa anak-anak melampaui lima tahap dalam memproses informasi tentang dunia sosial mereka:

  •      Membaca kode/sandi isyarat-isyarat sosial.
  •       Menginterpretasikan.
  •       Mencari suatu respon.
  •      Memilih suatu respon yang optimal.
  •     Bertindak.
Dari perspektif kognitif sosial, anak-anak yang tidak dapat menyesuaikan diri tidak memilki keterampilan kognitif sosial yang memadai untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain  (Kelly   &  De Armas,  1989;  Weisberg,Caplan,  &  Sivo,  1989).
Anak laki-laki yang tidak mengalami masalah penyesuaian diri dengan teman sebayanya mengajukan lebih banyak alternatif pemecahan yang lebih tegas dan matang, memberi pemecahan agresif terhadap masalah yang kurang tegang, memperlihatkan perencanaan yang lebih dapat menyesuaikan diri, dan mengevaluasi tanggapan agresif yang secara fisik kurang positif dibandingkan anak-anak yang mengalami  masalah-masalah penyesuaian diri dengan teman sebaya.

4.Bullying

Penindasan adalah agresi yang disengaja dan terus menerus diarahkan kepada target atau korban tertentu , biasanya dilakukan kepada mereka yang lemah, rentan  dan tidak terlindung, menarik diri dari lingkungan sosial.
 Menurut survei pada hampir enam belas ribu siswa di Amerika Serikat  yang merupakan kelas enam samapai sepuluh adalah pelaku penindasan atau korban penindasan. Penindasan juga merupakan masalah pada negara maju seperti inggris dan jepang, seperti di jepang atau korea, penindasan disekolah telah dihubungkan dengan bunuh diri siswa serta pikiran dan perilaku bunuh diri yang meningkat.
Penindasan meningkat selama masa transisi ke sekolah menengah. Peningkatan ini bisa mencerminkan kesulitan anak membentuk jaringan sosial disekolah. Mereka terutama anak laki-laki , menggunakan penindasan penindasan sebagai cara untuk membangun dominasi dalam kelompok sebaya.
 Anak laki-laki cenderung menjadi anak laki-laki yang lain menjadi korban dan anak perempuan menindas cenderung menjadikan anak perempuan lainya sebagai target. Semakin bertambahnya usia, kebanyakan anak-anak dapat belajar cara mencegah penindasan. Korban penindasan cenderung cemas , patuh, dan mudah menangis  atau suka bertengkar dan provokatif.
Anak-anak yang melakukan penindasan cenderung memiliki sedikit  teman dan tinggal didalam lingkungan keluarga yang kasar dan penuh hukuman yang membuat anak tersebut rentan terhadap hukuman atau penolakan. Kasus penindasan dikanada terjadi pada anak-anak yang kelebihan berat badan. Dalam penelitian, ternyata yang menjadi pelaku penindasan adalah dahulunya adalah korban penindasan.
Anak-anak cemas dan  menarik diri dari lingkungan mungkin menjadi korban karena mereka tidak mengancam pelaku penindasan dan tidak mungkin untuk membalas jika diganggu, tetapi bila anak-anak yang agresif mungkin terjadi target penindasan karena perilaku mereka yang mengiritasi pelaku.
Sebuah penelitian menunjukan bahwa pelaku dan korban penindasan pada masa remaja mungkin untuk mengalami,  depresi  dan menciba bunih diri. Penelitian lain baru-baru ini mengungkapkan bahwa pelaku dan korban memiliki lebih banyak masalah kesehatan (seperti sakit kepala, pusing, masalah tidur dan kecemasan).
Pencegahan penindasan olweus, diciptakan oleh dan olweus, program ini berfokus pada anak umur 5-6 tahun, dengan tujuan mengurangi kesempatan dan manfaat untuk penindasan. Pegawai sekolah diperintahkan dengan cara-cara untuk meningkatkan hubungan teman sebaya dan membuat sekolah lebih aman.
 Jika pencegahan ini dilakukan dengan benar, dapat mengurangi penindasan sekitar 30-70 persen. Informasi ini diperoleh dari pusat kekerasan di Universitas Colarado.
Step to respect merupakan program penindasan yang terdiri dari 3 langkah:
  • ·         Menetapkan pendekatan sekolah, seperti membuat kebijakan anti penindasan dan menetapakan konsekuensi untuk pelaku penindasan.
·         Pelatihan karyawan dan orangtua untuk berhadapan dengan penindasan.
·         Mengajarkan siswa untuk mengenali, tidak mentolerir dan menangani penindasan.
Informasi diberikan kepada siswa kelas 3 sampai 6. Dan pelatihan keterampilan untuk guru-guru selama 12-14 minggu, sebuah penelitian baru menemukan bahwa langkah-langkah step to respect dapat mengurangi penindasan.

Seperti persahabatan orang dewasa, persahabatan anak-anak juga biasanya ditandai dengan kesamaan. Mereka sering menyebut teman jika memiliki sikap yang sama, pendidikan yang sama, prestasi yang sejajar.
 Williard hartup mempelajari hubungan dan persahabatan dan selama lebih dari 3 dekade. Dia menyimpulkan bahwa teman-teman  dapat menjadi sumber daya kognitif dan emosional dari masa kecil sampai masa tua. Teman dapat memupuk harga diri dan rasa kesejahteraan.
Persahabatan anak-anak memiliki 6 fungsi:
  •   Companionship.
Persahabatan membuat anak akrab dengan teman bermain, seseorang yang bersedia menghabiskan waktu dengan mereka dan bergabung dalam kegiatan kebersamaan atau kolaboratif.

  •     Stimulation.
Persahabatan membuat anak-anak mempunyai informasi yang menarik, kesenangan dan hiburan.

  •  Physical support.
Persahabatan menyediakan waktu, sumber daya dan bantuan.


  •  Ego support.
Persahabatan memberikan harapan, dorongan yang membantu anak mempertahankan kesan dirinya sebagai kompeten, individu yang menarik, dan bermanfaat.

  •       Social comparison.
Persahabatan menyediakan informasi tentang hubungan anak dengan orang lain dan apakah anak melakukan yang baik.

  •      Affection and intimacy.
Persahabatan memberikan anak sebuah hubungan yang hangat dan dekat, saling percaya dengan orang lain. Keintiman dalam persahabatan ditandai dengan berbagai tentang pengalaman pribadi.
Tapi penelitian mengungkapkan bahwa persahabatan intim mungkin tidak muncul sampai awal masa remaja.
Keuntungan perkembangan terjadi ketika anak-anak memiliki teman yang secara sosial terampil  dan mendukung. Namun, terkadang dapat juga menimbulkan konflik diantara persahabatan.
Pada siswa kelas 6 yang tidak memiliki teman terlibat dalam perilaku sosial yang kurang  ( kerjasama, berbagai, membantu orang lain)  , memiliki nilai lebih rendah dan lebih emosional  ( depresi )  dibandingkan teman-temannya yang dapat bersosialisasi.

5.Contemporary Approaches to Ltudent Learning

1.      Contructivist and Direct Instruction Approaches
Pendekatan konstruktivis adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya individu untuk aktif dalam  membangun pengetahuan dan pemahaman dengan bimbingan dari guru.
 Dalam tampilan konstruktivis, guru tidak hanya berusaha untuk menuangkan informasi kedalam pikiran anak-anak. Tetapi, anak-anak harus didorong untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berfikir secara kritis dengan pemantauan yang cermat dan bimbingan yang berarti dari guru.
Seorang guru dengan filosofi pembelajaran konstruktivis tidak akan menyuruh anak menghapal informasi tapi akan memberikan mereka kesempatan untuk membangun pengetahuan bermakna dan memahami materi untuk cara belajar merekaa.
 Sebaliknya, pendekatan instruksi bermakna langsung adalah pendekatan pada siswa yang ditandai dengan arahan dari guru dan kontrol dari guru dan mempunyai harapan yang tinggi untuk kemajuan siswa.
Tujuan penting pendekatan instruksi langsung adalah memaksimalkan waktu belajar siswa. Pendukung dari pendekatan konstruktivis berpendapat bahwa pendekatan instruksi langsung ternyata membuat anak-anak menjadi pembelajar yang pasif dan tidak cukup menantang mereka untuk berpikir dengan cara kritis dan kreatif.
 Penggemar instruksi langsung mengatakan bahwa pendekatan konstruktivis tidak memberikan disiplin ilmu yang cukup, seperti sejarah atau ilmu pengetahuan.
Beberapa ahli dalam psikologi pendidikan percaya bahwa guru yang efektif menggunakan pendekatan konstruktivis dan pembelajaran langsung bersamaan daripada hanya melakukan salah satunya secara ekslusif.
2.      Accountability  
Sejak tahun 1990, publik AS dan pemerintah disetiap tingkatan menuntut meningkatkan dari sekolah. Salah satu hasilnya adalah penyebaran tes negara untuk mengukur apa yang telah maupun belum dipelajari siswa. Pendekatan ini menjadi hukum.
Pendukung berpendapat bahwa pengujian standar diseluruh negara bagian akan memiliki sejumlah efek positif. Ini termasuk prestasi siswa yang lebih banyak ditingkatkan dalam mata pelajaran yang diuji agar sesuai dengan harapan.
Kritikus berpendapat bahwa undang-undang NCLB melakukan lebih banyak hal yang berbahaya daripada hal yang baik. Kritik satu menyatakan menggunakan tes tunggal sebagai  indikator tunggal kemajuan siswa dan kompetensi menyajikan pandangan yang sangat sempit dari kemampuan siswa.
Kritik ini mirip dengan yang ditujukan pada tes IQ, dimana psikolog dan pendidikan menekankan bahwa sejumlah langkah harus digunakan, termasuk uji kuis, proyek, pengamatan kelas, dan sebagainya.
Dan dari pasal 9 bahwa beberapa orang khawatir bahwa di era kebijakan NCLB akan ada pengabaian siswa yang berbakat dalam upaya untuk meningkatkan tingkat pencapaian siswa yang tidak melakukanya dengan baik. Pertimbangan juga bahwa masing-masing negara diperbolehkan untuk memiliki kriteria yang berbeda untuk menentukan nilai kelulusan atau tidak pada tes untuk dimasukkan NCLB.
Sebuah analis data NCLB menunjukan bahwa hampir setiap siswa kelas empat di Mississippi tahu cara membaca tetapi hanya setengah dari siswa massachusetts yang melakukannya. Jelas, standar Mississippi untuk lulus tes membaca jauh dibawah orang-orang dari massachusetts.
 Dalam analisis terakhir dibeberapa negara, banyak negara telah mengambil rute aman dan tetap standar untuk prestasi dalam sekolah di mereka, tampaknya kemungkinan negara untuk menetapkan standar mereka  sendiri mungkin telah menurunkan standar prestasi.
Pertimbangkan juga bahwa salah satu tujuan NCLB adalah untuk menutup kesenjangan prestasi etnis yang mencirikan prestasi rendah oleh mahasiswa ameriak dan afrika latin dan prestasi yang lebih tinggi dengan siswa asia amerika dan amerika latin. Namun, ahli terkemuka  linda sayang hammond baru-baru ini menyimpulkan bahwa NCLB telah gagal mencapai tujuan ini.
Dia mengkritik NCLB dengan penilaian yang tidak tepat dalam pembelajaran bahasa inggris untuk siswa dengan kebutuhan khusus, insentif yang kuat untuk mengecualikan siswa berprestasi rendah dari sekolah untuk mencapai target skor tes, dan kekurangan guru berkualifikasi tinggi disekolah kebutuhan terus meninggi .
Meskipun menuai kritik, departemen pendidikan AS berkomitmen untuk menerapkan NCLB dan sekolah membuat akomodasi un tuk memenuhi persyaratan hukum. Memang, pendidikan yang paling mendukung pentingnya harapan dan standar yang tinggi untuk keunggulan siswa dan guru.

6.      Socioeconomic Status and Ethnicity

1.The Education of Student From Low-Income Backgrounds
Banyak anak-anak dalam masalah kemiskinan mencoba mengatasi penghalang dalam proses pembelajaran. Mereka mempunyai orangtua yang tidak berasal dari standar edukasi yang tinggi, yang tidak pandai membaca dan tidak memiliki cukup uang untuk membayar barang-barang dan pelatihan untuk pendidikan, seperti buku, perjalanan kekebun binatang dan museum.
 Anak-anak tersebut mungkin kekurangan gizi dan tinggal diarea dimana tindak kejahatan terjadi. Dibandingkan dengan sekolah dari area berpendapatan tinggi, sekolah dari berpendapatan rendah lebih banyak memiliki siswa yang mempunyai nilai prestasi tes yang rendah, tingkat kelulusan yang rendah dan presentasi kecil untuk melanjutkan ke universitas.
 Mereka memiliki banyak guru yang berumur muda dan memiliki pengalaman sedikit, mereka lebih memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Sedikit seolah berpendapatan rendah menepatkan murid-murid yang belajar dilingkungan yang kondusif (yang layak).
Kebanyakan gedung-gedung sekolah dan ruangan kelas sudah tua, mudah hancur, itu adalah contoh dari kondisi yang tidak menyenangkan yang diobservasi oleh  jonathan  kozol (2005)  pada banyak sekolah termasuk di south bronk dikota new york, seperti yang dijelaskan pada bagian awal chapter ini untuk bacaan lebih lanjut mengenai sekolah dan anak-anaka dari keluarga kurang mampu, lihatlah selingan diversity in life, span development interlude.

2.Ethnicity in Schools

Lebih dari sepertiga siswa afrika, amerika dan hampir sepertiga dari siswa latin bersekolah di 47 sekolah besar diamerika dibandingkan 5% dari siswa kulit putih dan 22% dari siswa dalam kota masih tersisa adalah kekurangan dana dan tidak memeberikan kesempatan yang cukup bagi anak untuk belajar secara efektif  (Healy,2009) .
Bahkan diluar sekolah dalam kota pemisahan sekolah (Gollnick dan Dagu,2009;Nieto dan Pertanda,2008)  hampir sepertiga dari semua mahasiswa dan afrika latin  mengobati sekolah dimana 90% atau lebih dari murid-murid adalah dari group (kelompok) minoritas (Banks,2008) .
Antropolog dari amerika john ogbu  (1989)  mengusulkan bahwa siswa etnis  minoritas ditempatkan dalam posisi lebih rendah dan ekspoitasi anak. Dalam sistem pendidikan amerika, berikut ini beberapa strategis untuk meningkatkan hubungan diantara siswa beragam etnis:
1.      Turn the class into a jigsaw classroom.

Jigsaw anonson mengembangkan konsep dari ruang kelas jigsaw dimana murid-murid berasal dari latar belakang budaya yang berbeda ditempatkan pada kelompok untuk bekerja sama dimana mereka harus menyusun beberapa bagian berbeda dan sebuah proyek untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

2.      Encourage students to have positive contact with diverse other students.

Dengan siswa yang berbeda mereka harus melihat satu sama lain sebagai individu bukan bagian dari kelompok tertentu ( kelompok yang homogen ).

3.      Reduce bias.

Mengurangi bias dengan cara mengubah pandangan anak-anak yang berasal dari beragam etnis dan kelompok budaya, memilih bahan permainan dan aktivitas diruangan kelas yang meningkatkan pengertian mengenai budaya, membantu siswa melawan stereotipe dan bekerja sama dengan orang tua untuk mengurangi pandangan bias dan prasangka dirumah.

4.      View the school and community as a team.

James corner mengatakan pendekatan tim merupakan cara terbaik untuk mengajar anak-nak.

3 aspek penting dalam dari corner projek untuk perubahan adalah:

  •         Penguasaan dan managemen tim yang berkembang
Sesuai dengan rencana-rencana sekolah, strategi, assesment, dan perkembangan perencanaan karyawan.
  •          Kesehatan mental atau dukungan tim sekolah
  •          Program orang tua
Lomer percaya bahwa keseluruhan bagian sekolah harus saling bekerja sama.


5.      Be a competent cultural mediator.

Guru-guru harus dapat berperan sebagai mediator budaya dengan cara menjadi lebih peka terhadap bias-bias pada interaksi dalam, lebih mempelajari mengenai kelompok etnis yang berbeda, lebih peka terhadap perilaku etnis anaka-anak melihat siswa dengan sudut pandang yang positif dan berfikir positif mengenai orang tua agar terlibat sebagai partner guru dalam mengajar anak.

7.Cross-Cultural Comparisons of Achievement

Anak-anak di Amerika lebih berprestasi daripada teman-teman mereka di berbagai negara lain. Namun, hubungan keterampilan yang rendah dari anak-anak di Amerika pada bidang matematika dan ilmu  pengetahuan dalam perbandingan dengan teman-teman mereka dari beberapa negara lainnya, terutama negara-negara di Asia, telah dipublikasikan secara besar-besaran  dalam beberapa dekade belakangan ini.

Pada tahun 2003, siswa-siswa kelas empat di lima negara ( Singapore, Chinese Taipe, Japan, Hong Kong dan Inggris) mempunyai nilai matematika yang lebih tinggi daripada siswa-siswa Amerika. Pada perbandingan ilmu pengetahuan, siswa-siswa kelas empat dari 11 negara (nilai yang tertinggi dari Singapore, Hong Kong, Japan, dan Chinese Taipe) mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman-teman mereka dari Amerika.

Harold Stevenson dan rekan-rekannya telah menyelesaikan lima perbandingan cross─cultural dari siswa-siswa di Amerika, China, Taiwan dan Jepang. Pada penelitian ini, siswa Asia secara konsisten lebih terampil dari siswa Amerika pada bidang matematika. Dan, semakin lama siswa-siswa berada di sekolah, maka semakin lebar jurang pemisah antara siswa Asia dan Amerika─perbedaan yang paling rendah adalah pada kelas satu, dan perbedaan paling tinggi adalah pada kelas sebelas.

Untuk lebih mengetahui penyebab-penyebab dari perbedaan yang besar dari cross─cultural tersebut, Stevenson dan rekan-rekannya menghabiskan banyak waktu untuk mengobservasi di dalam ruangan kelas, seperti melakukan interview dan survey terhadap para guru, siswa dan orang tua. Mereka menemukan bahwa guru-guru Asia menghabiskan lebih banyak waktu mereka untuk mengajarkan matematika dibandingkan guru Amerika.

Sebagai contoh, lebih dari seperempat waktu belajar-mengajar di dalam kelas pada tingkat pertama dihabiskan dengan mengajarkan matematika di negara Jepang, dibandingkan dengan sepersepuluh waktu yang dihabiskan oleh negara Amerika untuk mengajarkan matematika pada siswa tingkat pertama. Selain itu, siswa Asia berada di sekolah dalam rentang waktu 240 hari per tahun, sedangkan siswa Amerika hanya 178 hari.

Perbedaan-perbedaan yang lainnya juga ditemukan pada orang tua Asia dan Amerika. Orang tua Amerika sepertinya lebih percaya bahwa prestasi matematika anak-anak mereka merupakan kemampuan bawaan lahir, sedangkan orang tua Asia lebih mengatakan bahwa prestasi matematika anak-anak mereka merupakan hasil dari usaha dan latihan.

Sehubungan dengan perbedaan-perbedaan pada orang tua Asia dan Amerika terdapat penjelasan mengenai usaha dan kemampuan, Carol Dweck (2006) menggambarkan pentingnya mindset anak-anak. Ia menyimpulkan bahwa setiap individu memilki satu dari dua mindset:
1. fixed mindset, dimana mereka percaya bahwa kualitas mereka telah terukir pada batu dan tidak dapat diubah.
2. growth mindset, dimana mereka percaya bahwa kualitas mereka dapat berubah dan meningkat sesuai dengan usaha mereka.

            Dweck (2006) berargumen bahwa mindset individu dipengaruhi apakah mereka akan menjadi optimis atau pesimis, apa yang akan menjadi tujuan mereka dan seberapa keras mereka akan bekerja keras untuk mencapai tujuan mereka, dan prestasi mereka. Dweck mengatakan bahwa mindset telah mulai untuk diasah pada masa anak-anak ketika anak-anak berinteraksi dengan orang tua, guru, dan pelatih, yang didalam diri mereka telah ada fixed mindset atau growth mindset.

Selain itu, pada penelitian Stevensons, orang tua Amerika juga memiliki ekspektasi yang rendah terhadap pendidikan dan prestasi anak-anak mereka daripada orang tua Asia. Menurut pandangan Stevensons, perubahan yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan di Amerika adalah semakin tingginya ekspektasi terhadap prestasi.

Ahli yang lainnya, seperti Phylis Blumenfeld, Jacquelynne Eccles dan Joyce Epstein berkesimpulan bahwa semakin tinggi standart ekspektasi terhadap prestasi begitu pula dengan perhatian guru terhadap setiap individu anak-anak, mengikutsertakan anak-anak dalam pembelajaran tugas yang bermakna dan menarik, dan hubungan yang positif antara sekolah dengan keluarga siswa, merupakan aspek-aspek utama dalam meningkatkan prestasi akademik anak-anak di Amerika.

8.Hubungan Saudara Sekandung

Saudara kandung yang lebih tua memiliki peranan penting yang telah ditentukan secara culturalnya hal ini disebutkan dalam komunitas pastoral dan agricultural. Orang-orang tua mengajarkan anak kandung mereka  yang lebih tua untuk mengajari adik-adiknya mencari kayui bakar , mengembala ternak dan bercocok tanam. Saudara sekandung diajarkan untuk menghormati yang lebih tua (Cicirelly,1994a).
 Sering kali pengajaran muncul secara spontan ketika saudara yang lebih tua mengasuh yang lebih muda. Dalam masyarakat industrialis,saudara kandung cenderung berjumlah kcil dan jarak antar saudara yang lebih jauh,memudahkan orang tuanya untuk mengejar karier atau ketertarikan yang lain dan memfokuskan lebih banyak sumber daya serta perhatian kepada tiap anak (Cicirelly,1994a).

9.Anak Dalam Kelompok sebaya

            Pada masa prasekolah anak-anak bermain dengan teman sebayanya namun ketika masa sekolah anak-anak tidak lagi bermain dengan teman sebayanya yang artinya berkelompok . Anak yang bermain bersama biasanya memiliki status social ekonomi usia yang sama,walaupun kelompok bermain dilingkungan rumahnya terdiri dari berbagai tingkatan usia (Hartup,1992).
Pada dasarnya  anak perempuan biasanya lebih dewasa dibandingkan dengan anak laki-laki dan anak laki-laki berbicara dan bermain dengan anak perempuan,atau sebaliknya,dilakukan dengan cara yang berbeda (Hibbard & Bhrmester,1998).




10.Pengaruh Positif  dan Negatif Relasi Teman Sebaya

Kelompok sebaya juga memiliki efek negative.efek tersbut biasanya terdapat dalam pergaulan dalm teman sebaya yang pengutil,mulai menggunakan obat terlarang dan bertingkah laku antisocial lainnya. Anak remaja sangat rentan terhadap tekanan untuk meniru, dan tekanan ini dapat mengubah anak bandel menjadi seorang kriminal (Hartup,1992).
Kelompok sebaya cenderung terdiri dari satu jenis kelamin,memungkinkan anak laki-laki dan perempuan belajar prilaku yang sesuai dengan gendernya. Prasangka yang ditimbulkannya adalah sikap memusuhi aggota kelompok lain,terutama rasial atau etnis.

11.Agresi dan Mengganggu

Hostile Agression (Agresi yang bertujuan menyakiti targetnya) menggantikan instrumental aggression (agresi yang bertujuan mendapatkan tujuan), yang merupakan cirri khas periode prasekolah (Coie & Dodge, 1998). Overt aggression (kekuatan fisik atau ancaman verbal) semakin berkurang dibandingkan relational atau social aggression.

12.Agresi dan Pemrosesan Informasi Sosial

Anak dapat bertindak secara agresif  salah satunya di akibatkan karena adanya kesalahan pada saat proses social yaitu lingkungan social apa yang mereka perhatian dan bagaimana mereka menginterprestasikan apa yang mereka rasakan (Crick dan Dodge, 1994, 1995).
  •     Hostile agression adalah agresi yang bertujuan menyakiti targetnya.
  •          Instrumental agression adalah agresi yang  bertujuan untuk mendapatkan tujuan.
Aggressor memandang kekuatan dan paksaan sebagai cara efektif untuk mendapatkan  apa yang mereka inginkan.

Dalam terminology pembelajaran social, mereka agresif karena mereka berharap mendapatkan imbalan, maka keyakinan mereka akan efektivitas agresi menjadi dikuatkan (Crick & Dodge, 1996).

3.Apakah Kekerasan di Televisi Mengarahkan Anak kepada Agresi?

Anak-anak, terutama yang orang tuanya menggunakan disiplin yang kejam, lebih rentan terhadap pengaruh kekerasan di televisi ketimbang orang dewasa (Coie & Dodge 1998).
Pada saat anak menonton kekerasan di televisi, mereka mungkin menyerap nilai yang digambarkan dan menjadi memandang agresi sebagai perilaku yang dapat diterima. Semakin besar posisi televisi, semakin besar efek merusak yang tampak.
anak usia 8-12 tahun tampaknya sangat mudah terpengaruh (Eron & Huesmann, 1986). Dalam studi lanjutan, jumlah jam menonton televisi pada usia 8 tahun, dan kecenderungan terhadap tayangan aksi pada anak laki-laki, memprediksi tingkat keparahan serangan kriminal pada usia 30 tahun.

  • Masa ini terjadi pada umur 6 - 7 tahun sampai kurang lebih 12 – 13 tahun. Periode ini dimulai setelah anak melewati masa degil, di mana proses sosialisasi telah dapat berlangsung lebih efektif, dan menjadi matang untuk memasuki sekolah.

  •   Belajar mematuhi aturan-aturan kelompok, Belajar setia kawan, Belajar tidak bergantung pada orang dewasa, Belajar bekerja sama, Mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya, Belajar menrima tanggung jawab, Belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), Mempelajari olah raga dan permainan kelompok Belajar keadilan dan demokrasi.

Referensi
  • Santrock,J.W.2009.Life Span Development(12th Ed).New York:McGraw-Hill Book co.
  • Papalia & Olds.2004.Human Development.New York:McGraw-Hill Book Co.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;