Selasa, 17 April 2012

Studi Kasus Dalam Bimbingan dan Konseling


     Ketika saya tamat SMP, pada awalnya saya binggung akan masuk SMA mana, karena SMA yang saya favoritin yaitu SMAN 3 PLUS RANTAU UTARA tidak menerima saya di saat saya mengikuti testing tersebut( saya perwakilan SMP). Namun saya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Binjai akan tetapi Sebagai anak terakhir semula orang tua saya berkeberatan setamat SMP anaknya melanjutkan ke SMA di binjai orang tua saya sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-susah melanjutkan sekolah ke kota. Akhirnya demi mendapatkan arah tujuan hidup saya, saya berkonsultasi dengan guru bimbingan dan konseling saya sewaktu SMP. Akhir kata saya mendapatkan petunjuk dan saya akhirnya mencoba testing ulang di SMAN 1  RANTAU UTARA.
Begitulah pengalaman saya, buat guru konseling saya, terima kasih atas sarannya.
 
TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING



  • Tujuan konseling berdasarkan penanganan oleh konselor dikemukakan oleh Shertzer dan Stone yang dikutip oleh Mc Leod (2004) dapat diperinci sebagai berikut:
1. Mencapai kesehatan mental yang positif
Apabila kesehatan mental tercapai maka individu memiliki integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif terhadap orang lain. Individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri, dan mencapai integrasi tingkah laku.
2. Keefektifan individu
Seseorang diharapkan mempunyai pribadi yang dapat menyelaraskan diri dengan cita-cita, memanfaatkan waktu dan tenaga serta bersedia mengambil tanggung jawab ekonomi, psikologis, dan fisik.
3. Pembuatan keputusan
Konseling membantu individu mengkaji apa yang perlu dipilih, belajar membuat alternatif-alternatif pilihan, dan selanjutnya menentukan pilihan sehingga pada masa depan dapat membuat keputusan secara mandiri.
4. Perubahan tingkah laku

  • Kesimpulannya, penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri; (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguan-gangguan secara berarti; (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional ; (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini; (5) menerima kenyataan bahwa, jika kita mengharap untuk berubah, kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti; dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini.

  • Teknik Konseling
Wawancara ialah tanya jawab antara pewawancara dengan yang diwawancara untuk meminta keterangan atau pendapat mengenai suatu hal. Wawancara dapat dilakukan oleh direksi kepada pelamar pekerjaan, pelanggan atau pihak lainnya.



SUMBER
Aryatmi, S., 1991, Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi, Satya Wacana Semarang.
Corey G., 1991/1995, Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto), IKIP Semarang Pres.
McLeod, J. 2004. An Introduction to Counseling. Maidenhead: Open University Press.




http://warnadunia.com/pengertian-konseling/.
 Prayitno, 1998, Konseling Pancawashita, progdi BK PPB, FIP, IKIP Padang
Rosjidan, 1998, Pengantar Teori-teori Konseling, Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK, Jakarta
Surya, M., 1988, Dasar-Dasar Konseling Pendidikan, Kota Kembang, Yogyakarta.



0 komentar:

Poskan Komentar

 
;